Blog NBA News

Derrick Rose dan Kesetiaan Penggemarnya di Tiongkok

derrick-rose-tears

Telah menjadi rahasia umum bahwa Asia adalah target pasar bagi industri olahraga dunia. Contoh ekspansi industri olahraga ke Asia tentu ada di cabang olahraga sepakbola dan basket, khususnya NBA.

Seiring dengan keberhasilan The Dream Team mengglobalkan basket ke seluruh dunia, NBA pun mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat Asia. Bintang-bintang NBA lawas pun tak luput menyambangi tanah Asia. Pemain kontroversial Dennis Rodman sempat menyambangi dan dipuja layaknnya dewa di Korea Utara. Kobe Bryant pun secara rutin berkunjung ke Tiongkok dan Filipina yang belakangan diikuti oleh suksesornya LeBron James.

Baru-baru ini dalam tajuk Basketball Without Borders, NBA juga menyasar negara seperti India dan mulai merambah ke benua Afrika. Indonesia pun sempat disasar NBA. Danny Granger adalah salah satu pemain NBA pertama dalam 10 tahun terakhir yang mengunjungi Nusantara, tepatnya kota Surabaya. Berturut-turut kemudian ada nama-nama seperti Kevin Martin, Nate Robinson, Mo Speights dan paling teranyar adalah Enes Kanter beberapa bulan lalu.

Dari segala penjuru Asia yang disasar, ada beberapa negara yang memiliki tempat khusus di hati NBA ataupun pemain-pemainnya. Tak jarang malah ada beberapa pemain yang memiliki tempat tersendiri di hati penggemar NBA negara tersebut. Filipina dan Tiongkok adalah dua negara yang lumayan rajin disambangi oleh NBA dan beberapa pemainnya. Negara terakhir yang disebut juga memiliki “ikatan” tersendiri dengan dua bintang NBA, Kobe Bryant dan Derrick Rose. Kobe yang juga adalah legenda hidup NBA bahkan memiliki patung utuh tubuhnya di negeri tirai bambu itu. Kali ini kita akan membahas tentang pemain yang terakhir disebut dan koneksinya dengan para penggemar di Tiongkok.

Lahir dan besar di kota Chicago, negara bagian Illinois, pemain ini menyeberang ke Memphis, Tennesse untuk bergabung dengan tim basket University of Memphis Tigers. Meskipun mendapat tawaran dari beberapa kampus di wilayah Illinois, Derrick Rose muda bersikukuh untuk ke Tennesse guna mendapat arahan langsung dari pelatih John Calipari. Menghabiskan hanya setahun di Memphis, Rose akhirnya kembali ke “rumah”.

Chicago Bulls yang mendapatkan hak memilih pertama pada Draft NBA 2008. Mereka menjatuhkan hak pilih mereka pada Rose. Rose pun menjalani musim perdananya dengan gemilang setelah menyabet gelar Rookie of The Year dan mengantarkan Bulls ke playoff sebagai peringkat ketujuh Wilayah Timur.

Di musim keduanya bersama Bulls, prestasi Rose semakin benderang. Ia berhasil menembus barisan All Star ditambah dengan rilis resmi ESPN yang mengabarkan bahwa jersey atas nama Rose berhasil menempati peringkat empat penjualan terbaik. Animo pecinta NBA pun langsung tertuju kepada Rose menjelang musim ketiganya. Penampilan yang konsisten dan terus meningkat membuat ia menjadi sosok yang paling dinanti di NBA musim 2010-2011.

Eksplosivitas Rose, ketenangan yang mematikan Ronnie Brewer dan Luol Deng di sayap penyerangan, ditambah keamanan di bawah ring yang digalang oleh Carlos Boozer dan Joakim Noah, itulah Bulls kala itu. Ditambah barisan cadangan yang tidak buruk-buruk amat seperti Rasual Butler, Omer Asik, Kyle Korver dan Brian Scalabrine, Bulls berhasil memperoleh 62 kemenangan sekaligus menempatkan mereka sebagai peringkat 1 Wilayah Timur. Keberhasilan itu pulalah yang membuat Rose dinobatkan sebagai MVP NBA musim itu, di usia ke 22 tahun 6 bulan! Ia berhasil mematahkan rekor Wes Unseld sebagai MVP termuda dengan 23 tahun 2 bulan.

Sayangnya Bulls gagal melaju hingga Final NBA setelah dikalahkan Heat dengan trio LeBron James, Dwyane Wade dan Chris Bosh di Final Wilayah Timur. Keberhasilan Rose dan Chicago Bulls berhasil menarik minat perusahaan raksasa olahraga asal Jerman adidas, untuk menjadikan Rose sebagai “wajah utama” mereka. Bahkan dari rumor yang beredar, Rose sempat ditawari kontrak selama 13 tahun oleh adidas yang akhirnya memang terbukti dengan besaran 185 juta dolar AS. Itu merupakan kontrak terbesar kala itu sekaligus pemain termuda yang pernah mendapatkannya. Dengan kontrak itu sendiri, Rose dipastikan mendapatkan 10 juta dolar lebih per tahunnya hanya dari adidas.

Tidak hanya dengan adidas, Rose juga meneken perpanjangan kontrak dengan Bulls yang besarannya mencapai 94,8 juta dolar untuk lima musim. Kontrak ini sendiri secara aklamasi menjadikan gaji Rose adalah 30 persen dari keseluruhan batas belanja (salary cap) Bulls kala itu.

Sayangnya masa bulan madu Rose, Bulls dan adidas hanya berlangsung selama musim reguler selanjutnya. Kembali mengantarkan Bulls ke playoff, Rose harus keluar di kala pertandingan menyisakan 1:22 di kuarter empat. Melawan Philadelphia Sixers, Rose yang melakukan penetrasi ke paint area melakukan tembakan melompat yang kemudian diakhiri dengan pendaratan yang salah. Ia jatuh seketika dan memegangi lutut kirinya. Rose harus dibantu keluar lapangan karena kesulitan berdiri. Adegan itu sekaligus adegan terakhir Rose bersama Bulls musim itu.

Hasil pemeriksaan medis kemudian menyatakan Rose terkena cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL) dan diprediksi menepi 8 sampai 12 bulan. Benar-benar pernyataan yang membuat pendukung Bulls ataupun Rose di segala penjuru dunia bersedih. Mereka akan kehilangan pemimpin, MVP atau bahkan mungkin pemain tereksplosif yang ada di NBA kala itu.

Rose benar-benar absen total di musim 2012-2013 tanpa sekalipun bermain. Meskipun di akhir musim ia sempat terlihat ikut latihan dengan tim Bulls, tapi Coach Tom Tibodheau tidak mau mengambil resiko sama sekali. Rose kembali tampil untuk Bulls di musim 2013-2014 dan terlihat sangat menjanjikan selama pramusim dan awal musim.

Namun sayang sekali lagi, memasuki laga kesepuluh. Rose kembali mengalami cedera, kali ini lutut kanannya mengalami robek di area meniscus. Ia harus menjalani operasi dan dinyatakan harus istirahat sepanjang musim.

Musim 2014-2015 Rose tampil di laga pembuka sebelum akhirnya mengakhiri musim dengan total memainkan 51 laga musim itu. Itu adalah penampilan terbanyaknya selama semusim sejak musim 2011-2012. Sisa 31 laga yang ia lewatkan musim itu dikarenakan cedera yang sama di lutut kanannya terulang. Ia sempat menjalanai operasi lagi tapi tidak butuh waktu terlalu lama untuk penyembuhan. Bulls pun kembali ke playoff dan berhasil mengalahkan Milwaukee Bucks di putaran pertama.

Bertemu dengan Cavs di putaran kedua, Rose sempat membangkitkan semangat para fans Bulls sekaligus fans pribadinya setelah melesakkan tembakan buzzer beater di akhir laga untuk memenangkan pertandingan. Sayangnya, Bulls harus bertekuk lutut di hadapan Cavs musim itu dalam enam laga.

Di musim 2015-2016 yang sekaligus musim terakhirnya bersama Bulls, Rose masih tampil tidak buruk-buruk amat. Catatan 16,4 poin per laga (PPG) merupakan raihan terburuk keduanya sepanjang musim. Tapi ada satu hal yang tampak jelas berubah dari permainan Rose. Tidak ada lagi ekplosivitas yang ia tunjukan di awal karirnya. Tidak ada lagi dunk-dunk menghujam ring yang penuh tenaga. Rose lebih banyak tampil dengan layup mudah dan tembakan-tembakan jarak menengah.

Penampilan ini ditambah dengan perombakan manajemen Bulls akhirnya membawa Rose pada pertukaran yang mengirimnya ke New York Knicks pada musim 2016-2017. Bersama Knicks, Rose sempat diprediksi akan menjadi kekuatan menjanjikan di Wilayah Timur bersama Carmelo Anthony dan Kristaps Porzingis. Tapi, Knicks justru berakhir di urutan ke-12. Dengan segala hal buruk yang terjadi di Knicks musim lalu, Rose masih berhasil mempertahankan performanya dengan rataan poin di atas 15 PPG. Tepatnya 18,0 PPG ditambah 4,4 asis per laga (APG) dalam total 47 persen tembakan masuk.

Rose pun lantas memasuki babak baru dalam karirnya setelah ia memutuskan untuk menjadi pemain bebas transfer. Ia pun mengharapkan kontrak terbaik untuk karirnya yang rasanya masih sangat bisa diselamatkan atau bahkan di kembalikan ke masa jayanya. Nama San Antonio Spurs dan Bucks muncul sebagai pelari terdepan sebelum akhirnya Cavs mencuri kesepakatan ini.

Di kontrak dengan status minimum veteran, Rose hanya dibayar 2,1 juta dollar selama semusim ke depan. Memang tampak sangat menyedihkan melihat Rose sendiri baru berusia 28 tahun dan mantan MVP. Tapi nilai ini bila dilihat dari kacamata lain adalah upaya Rose untuk mengembalikaan kejayaannya. Bersama dengan pemain semacam LeBron James harusnya membuat segalanya lebih mudah dan dapat meningkatkan performanya.

Harapan itu pula yang tumbuh di antara para penggemar setia Rose. Di sela-sela kunjungan Rose ke Tiongkok dalam rangka peluncuran sepatu adidas terbarunya, Rose mendapatkan sebuah film singkat yang berisi beberapa fans setianya memberikan semangat dan alasan mengapa mereka mencintai Rose. Mereka bisa dibilang adalah segelintir orang yang masih percaya bahwa Rose akan bangkit kembali dari segala keterpurukannya. Merekalah yang senantiasa mengelu-elukan nama Rose ketika yang lain sudah berpindah ke bintang-bintang lain.

Sesaat setelah video itu diputar, Rose menngucapkan terima kasih diiringi dengan tetesan air mata haru melihat betapa besar cinta penggemarnya di Tiongkok sana.

Mungkin inilah yang dibutuhkan oleh Rose setelah segala apa yang ia lalui. Dari seorang bocah Chicago bermimpi untuk bermain di klub kebanggaan mereka Bulls, menjadi pemain terbaik di liga agar terlihat seperti legenda Bulls Michael Jordan, lalu kemudian merosot tajam dengan segala cedera dan penyembuhan yang harus ia alami, didepak dari tim, hingga harus berakhir dengan tim yang juga sama kacau balaunya.

Sekarang ia kembali menatap asa bersama dengan orang-orang yang memang setia sejak awal mendukungnya. Jika Anda melihat lagi penampilan Rose di masa jayanya, kesimpulannya mudah. Derrick Martell Rose adalah Russell Westbrook sebelum menjadi Westbrook yang kita kenal saat ini. Ia adalah salah satu point guard tereksplosif dan terbaik yang pernah ada di NBA.

Untuk mengakhiri artikel ini, simak kalimat dari Ronald Stacey King sang komentator Chicago Bulls Television Broadcast dalam mendeskripsikan MVP Rose.

“Too big, too strong, too fast, too good”

Foto: sneakernews.com