Blog NBA News

Carmelo Anthony, Kanan-Kiri -Tidak- OK!

image

Memasuki musim bebas kontrak (free agency) tahun ini, beberapa nama telah memutuskan bergabung dengan tim-tim baru. Beberapa pemain memutuskan bertahan dengan tim lama meskipun ditinggalkan tandemnya. Misalnya, Chris Paul dan Blake Griffin. Beberapa pemain menemukan tandem baru di tim baru mereka masing-masing. Menjelang memasuki pemusatan latihan (training camp) guna menjalani pertandingan pramusim dan musim reguler, beberapa tim memiliki kecenderungan mengunci semua pemain yang mereka butuhkan atau inginkan sebelum liga musim panas (summer league) berakhir. Tidak ada alasan yang lebih masuk akal selain guna mempererat ikatan (chemistry) permainan tim mereka. Ini bisa kita lihat saat Kevin Durant memutuskan bergabung dengan Warriors jauh sebelum laga pramusim dimulai. Ikatan yang terbentuk pun sudah terlihat sangat bagus jauh sebelum mereka menjadi juara musim ini.

Beberapa nama besar di musim ini sudah memutuskan bergabung dengan tim baru mereka –setelah sekian banyak rumor yang menyeruak. Gordon Hayward akhirnya mengakhiri segala spekulasi setelah setuju bergabung dengan Boston Celtics. Stephen Curry yang dibayar sangat kecil dalam empat musim ke belakang juga akhirnya mendapatkan gaji terbesar sepanjang sejarah NBA. Sementara itu nama-nama macam Rajon Rondo dan Derrick Rose masih belum menentukan pilihan akan bermain di mana musim depan.

Tapi dari sekian nama dan rumor yang mengiringi. Ada satu nama yang bisa dibilang kasusnya sangat membingungkan. Carmelo Anthony.

Melo, sapaan akrab Carmelo Anthony, sebagaimana media beritakan, sedang dalam kondisi yang bisa dibilang terburuk dalam karirnya. Setelah masuk ke NBA pada musim 2003 bersama dengan salah satu generasi terbaik NBA, Melo yang dipilih pada urutan ketiga oleh Denver Nuggets langsung menjadi bintang sejak awal kedatangannya. Ia terus dipuja di Denver Nuggets. Nyaris semua orang memakai jersey Melo. Bahkan kedatangan Allen Iverson ataupun Chauncey Billups pun tidak mengurangi pamor Melo. Melo yang bermain sebagai Small Forward, sepanjang karirnya selalu disejajarkan dengan sahabat karibnya sendiri, LeBron James. Kemampuan Melo dalam mencetak angka mungkin lebih baik dari James. Kemampuan ini pula yang akhirnya meyakinkan ia untuk meminta pertukaran ke manajemen Nuggets. Memang tidak secara verbal, tapi keenganan Melo untuk menandatangani perpanjangan kontrak adalah salah satu pertanda ke arah situ.

Keinginan Melo terwujud. Menjelang ditutupnya masa pertukaran pemain pada musim 2010-2011. Melo bersama Billups ditukar ke New York Knicks. Bermain untuk Knicks adalah salah satu mimpi Melo. Mengingat kota New York adalah kota kelahirannya. Dan sambutan publik Madison Square Garden pun tidak kalah meriah dari para pendukung Nuggets. Melo bahkan mendapat sambutan berupa mini-movie menjelang laga pertamanya bersama Knicks. Karirnya pun berjalan cukup mulus di awal. Melo bersama sederet pemain seperti Amar’e Stoudemire, Baron Davis dan Tyson Chandler tampil cukup menawan. Mengembalikan atmosfer Knicks di era Patrick Ewing dahulu. Melo masih tetap menjadi bintang utama. Melo masih terus mempertahankan kemampuan mencetak angkanya di atas 20 poin per laga (ppg). Bahkan Melo berhasil menjadi top skor NBA pada musim 2013 dengan rata-rata 28,2 poinnya. Mengumpulkan 10 kali penampilan di NBA All Stars, tiga medali emas dan satu medali perunggu dari empat olimpiade yang ia ikuti juga tidak bisa dikesampingkan begitu saja.

Tapi semua peruntungan Melo itu berubah drastis di dua musim terakhir. Selain kesulitan melangkah jauh di babak playoff (tidak lebih dari babak kedua). Melo juga mengalami penurunan permainan. Rata-rata 21,8 dan 22,4 ppg adalah rataan poin Melo di dua musim terakhir. Sepanjang 13 tahun karirnya, itu adalah pencapaian terburuknya. Selain di dua musim awal bermain di NBA.

Melo mengalami penurunan sejak Phil Jackson mengambil alih kursi presiden operasional Knicks. Diberitakan, Phil juga turut memengaruhi pola permainan Knicks. Pola permainan yang selama ini diterapkan Phil selama karirnya, berusaha ia terapkan di Knicks. Konsep “triangle” atau segitiga yang membawa Phil memiliki 11 cincin juara itu ternyata tidak cocok ia terapkan sekarang. Melo yang berusaha diperlakukan seperti Michael Jordan dan Kobe Bryant, malah berakhir buruk. Dukungan fans Knicks pun terpecah, ada yang membela Phil karena ia sudah terbukti memenangi NBA sebanyak 11 kali. Ada pula yang membela Melo karena ia adalah pemain terpenting (franchise player) Knicks di tujuh musim terakhir. Akhirnya manajemen Knicks memutuskan untuk memberhentikan Phil Jackson dari kursi presiden tersebut. Jackson kalah dan Melo menang.

Di sinilah dilema bagi Melo semakin besar. Melo yang sudah menandatangani kontrak besar seharga 124 juta dollar masih memiliki sisa dua tahun kontrak di Knicks. Kemungkinan Knicks untuk memperpanjang kontrak Melo sangatlah kecil. Mengingat Melo akan berumur 35 saat kontraknya habis. Selain itu, dalam klausul Melo. Melo tidak dapat ditukar ke tim lain kecuali ia yang memilihnya (no trade clause). Ini tentunya situasi yang tidak mudah baik bagi Melo sendiri ataupun Knicks. Knicks tentu ingin memperbaiki prestasi mereka setelah terpuruk musim ini. Usaha membangun ulang tim dengan berpusat pada Porzingis diprediksi akan terhambat bila Melo masih di tim. Baik dengan kehadiranya ataupun besarnya gaji Melo. Sekali lagi, Knicks tidak bisa menukar Melo bila ia tidak mau. Lantas maukah Melo ditukar?

Mengingat kondisi sekarang, spekulasi Melo akan mengaktifkan klausul no trade-nya sedang hangat dibicarakan. Selain karena konsep tim super (Superteam) yang sedang hangat dibicarakan dan dibentuk oleh beberapa tim di NBA, cincin juara tentu target utama Melo. Usia yang sudah menginjak 33 tahun membuat waktunya semakin menipis untuk mendapatkan cincin juara pertamanya.

Saat spekulasi Melo berpindah tim mencuat, hanya ada dua tim yang namanya naik ke permukaan. Celeveland Cavaliers dan Houston Rockets. Cavs dikabarkan siap melakukanm pertukaran yang melibatkan tim ketiga dalam transkasi. Tapi masalah utama terletak pada tidak adanya tim yang mau menerima Kevin Love dengan gaji besarnya. Selain Love, rasanya sulit bagi Cavs untuk menukar pemain lainya. Ide menggabungkan Irving, James dan Melo memang sangat menarik. Tapi selama tidak ada tim yang mau menampung Love, ini hanya sebatas impian. Rockets juga tidak kalah menarik bagi Melo. Ia bisa bergabung bersama kompatriotnya di timnas USA, Chris Paul dan James Harden. Melo tampak sangat cocok dengan sistem permainan Rockets. Tapi sekali lagi pertukaran ini terlihat sulit terjadi, karena Rockets nyaris tidak punya aset yang mampu ditukarkan ke Knicks. Pertukaran Chris Paul sebelumnya yang melibatkan sembilan pemain membuat Rockets bisa dibilang “tidak bersisa”.

Carmelo Anthony benar-benar berada pada dilema terbesar sepanjang karirnya mungkin. Dia bisa saja bertahan di Knicks hingga kontraknya habis dan menghasilkan 48 juta dollar lagi. Tapi itu berarti ia tidak akan pernah (cukup sulit) mendapatkan cincin juaranya. Atau ia memutuskan berpindah tim yang nantinya akan mengurangi “spotlight” terhadap dirinya. Apapun pilihannya, menarik sekali ditunggu.

Foto: Newsday