Blog News

Semakin Solid, tapi Kurang di Komunikasi

scrimmage 2

Training Camp Tim Nasional Basket Putra untuk SEA Games 2017 (Los Angeles, Amerika Serikat, 12 – 22 Juni 2017)

Shooting guard veteran Los Angeles Lakers Nick Young tengah serius berlatih. Pemain yang masih menunjukkan konsistensi bermain yang baik di usia 32 tahun ini berlatih menembak ditemani seorang asisten.

Baru berlatih beberapa menit, Young berhenti. Ia menuju ke lapangan di sebelahnya di mana tim nasional sedang berlatih tanding. Bersama Young, tampak pula small forward Orlando Magic Mario Hezonja yang juga menghentikan latihannya hanya untuk menikmati permainan tim nasional Indonesia.

Setelah berlatih selama lebih dari satu minggu, hari Rabu, 21 Juni, timnas kembali melakukan latih tanding (scrimmage game). Lawan tanding timnas bukanlah dari tim tertentu. Melainkan para pemain yang berlatih intensif di Sports Academy. Beberapa di antaranya adalah prospek-prospek yang sedang bermain di NCAA, juga pemain-pemain sekolah menengah yang mulai serius ingin merintis karir di dunia basket.

“Scrimmage game ini untuk melihat apakah proses latihan di sini sudah sesuai harapan atau belum. Apa yang kami dapat di sini, sistem bermain di sini harus dijalankan. Pola serangan yang diajarkan oleh staf pelatih Sports Academy mengikuti apa yang kami inginkan,” terang Wahyu Widayat Jati, kepala pelatih tim nasional Indonesia.

Walau tidak datang dari satu tim yang sama, beberapa nama yang ikut melawan tim nasional adalah pemain-pemain dari Los Angeles yang serius meniti karir di basket. Mereka antara lain Riley Battin, salah satu pemain sekolah menengah terbaik di Los Angeles dan Cole Micek, pemain muda yang pernah memperkuat Universitas Ateneo di Manila, Filipina.

Berposisi sebagai center, Riley Battin cukup menyulitkan Christian Ronaldo Sitepu dan Firman Nugroho. “Dia pemain yang potensial,” kata Andrew Henke, pelatih tim nasional dari Sports Academy. “Dia bisa jadi Larry Bird selanjutnya.”

Serangan-serangan tim nasional sangat mengandalkan pergerakan cepat para pemain. Menciptakan ruang terbuka untuk menembak dan mengeksekusi setiap kesempatan sebaik mungkin.

“Saat menyerang, ball movement harus baik dan saya rasa para pemain sudah bisa melakukan itu. Eksekusinya –seperti yang kita lihat tadi- juga bagus saat open shot. Sudah sesuai harapan,” komentar Coach Wahyu.

“Kekuatan kita itu di tembakan. Sejauh ini sudah cukup baik, walau komunikasi antar pemain masih harus ditingkatkan.”

Lebih lanjut, Coach Wahyu menekankan bahwa para pemain harus mengetahui perannya masing-masing di dalam tim. Ia sedikit menunjukkan ketidakpuasan dalam hal ini.

“Ini masih terjadi khususnya di tim kedua atau pemain-pemain cadangan. Mungkin mereka masih membawa kebiasaan lama di klub masing-masing. Dari tim saya sendiri (CLS Knights Surabaya), Firman masih sulit komunikasi dengan pemain lain. Dia akan saya tekan terus,” jelas Coach Wahyu.

Salah satu pemain yang paling sering mengancam pertahanan tim nasional saat scrimmage game adalah D.J. Shelton. Pemain ini pernah bermain untuk Washington State University, dan pernah memperkuat tim G-League (dulu D-League) Los Angeles Lakers.

Sistem pertahanan tim nasional dibangun dengan pola penyesuaian. Strategi ini membuat tim yang menyerang sulit membaca apakah pola pertahanan yang dijalankan man to man atau zone defense.

“Pemain yang berhadapan dengan pemain yang bawa bola harus jaga man to man. Kalau pergerakan pemain tanpa bola, itu kita pakai zone. Sebenarnya, keseluruhan lebih ke man to man. Small ketemu small, big ketemu big. Rotasinya ada di zone, bukan di man to man,” lanjut Coach Wahyu yang kembali menekankan kurangnya komunikasi juga terjadi saat bertahan.

Secara keseluruhan, Coach Wahyu menunjukkan kepuasannya atas hasil latihan beberapa hari di Los Angeles. Ia berharap agar para pemain masih terus menigkatkan performanya. Di samping itu, Coach Wahyu juga mulai menyoroti beberapa pemain yang seolah sudah merasa nyaman berada di pemusatan latihan di Los Angeles. “Mereka harus tetap ingat, bahwa ini masih seleksi. Akan ada pemain yang nantinya dicoret,” kata Coach Wahyu.

Berlatih di fasilitas Sports Academy yang juga banyak digunakan oleh para pemain NBA, tim nasional akan kembali ke Indonesia pada tanggal 23 Juni (waktu Los Angeles). Setelah istirahat selama kurang lebih 10 hari di Tanah Air, Mario Wuysang dan kawan-kawan kembali akan menjalani pemusatan latihan di Lituania. (*)