NBA News

Cidera Justise Winslow dan Masa Depan Miami Heat

htwsl

Masih segar di ingatan kita bagaimana Miami Heat mendominasi NBA semenjak Lebron James akhirnya bergabung bersama kompatriotnya di NBA Draft 2003; Dwyane Wade dan Chris Bosh di tahun 2010 silam. Sejak tahun 2010 hingga 2014, Miami Heat selalu tampil di babak Final NBA dimana mereka memenangkan gelar NBA secara back-to-back di musim 2012 dan 2013.

Kini, kisah yang dialami Miami Heat justru berbalik 180 derajat. Semenjak Lebron James memutuskan untuk pulang kampong ke Cleveland pada tahun 2014 silam, kekuatan pancaran panas dari Miami Heat perlahan memudar. Apalagi, di awal musim ini Dwyane Wade, sang legenda hidup Miami Heat, juga memutuskan untuk pulang kampong dan memperkuat Chicago Bulls. Selain itu, Chris Bosh juga masih belum bias bermain karena cedera akutnya yang hingga kini masih membatasinya dari aktifitas fisik dan hamper menamatkan karir basket dari Bosh sendiri.

Kehilangan tiga bintang utama secara bertahap jelas membuat Heat tertatih-tatih di musim ini. Praktis, hanya ada nama Hassan Whiteside dan Goran Dragic yang mempunyai status sebagai bintang di tim ini, serta Justise Winslow, pemain tahun kedua asal Duke University yang dipandang sebagai pemain franchise untuk Miami Heat di masa depan.

miami-heat

Celakanya, ketiga pemain itu bergantian mengalami cidera dan mempengaruhi penampilan Miami Heat secara signifikan. Kini, Heat meraih rekor menang-kalah 11-26, hanya menempati posisi ke-13 di atas Philadelphia 76ers dan Brooklyn Nets. Tim ini pun terancam akan gagal masuk ke Playoff untuk kedua kalinya sejak tahun 2008 silam.

Teranyar, tim medis Miami Heat mengonfirmasikan bahwa Justise Winslow akan menjalani operasi di bahu kanannya dan besar kemungkinan ia tidak akan dapat bermain lagi di sisa musim ini. Tanpa kehadiran Winslow, sang pelatih Erik Spoelstra tentu akan kehilangan daya gedor dan athleticism yang diperlihatkan oleh Winslow baik dalam segi offense maupun defense.

Mengalah untuk Menang?

Praktis, dengan keterbatasan roster Miami Heat saat ini, opsi yang paling rasional untuk diambil oleh Pelatih Erik Spoelstra dan Presiden Pat Riley adalah mengorbankan musim ini untuk tanking [1] sembari memaksimalkan menit bermain untuk para pemain mudanya. Bukan tidak mungkin pula Heat akan melakukan pergerakan untuk menukar Goran Dragic – yang dikabarkan tidak senang dengan situasi di Miami saat ini – dengan beberapa draft picks sebelum tenggat pertukaran akan ditutup menjelang All-Star Game di bulan Februari esok.

pat-riley-061712

Dengan rekor menang-kalah yang buruk dan hamper tertutupnya pintu ke babak Playoff mengingat sengitnya pertarungan di wilayah Timur, tanking akan memperbesar kemungkinan Miami Heat untuk mendapatkan posisi yang lebih baik di NBA Draft 2017 kelak. Lewat NBA Draft 2017 – yang diprediksi banyak pengamat akan menghasilkan pemain bertalenta – Miami Heat bias mendapatkan pemain muda berpotensial, memulai fase rebuilding dan kembali menjadi tim papan atas di NBA dalam 2-3 musim ke depan.

Namun ingat, manajemen Miami Heat harus cermat dalam memilih pemain baru di NBA Draft 2017 kelak. Mereka harus bias menyeleksi pemain yang memang bertalenta luar biasa dan bermental juara seperti Dwyane Wade yang mereka pilih di urutan ke-5 NBA Draft 2003. Jangan sampai manajemen Heat melakukan blunder fatal seperti ketika mereka memilih pemain medioker seperti Michael Beasley di urutan ke-2 NBA Draft 2008 ketimbang memilih Russell Westbrook atau pun Kevin Love yang kala itu juga masuk di NBA Draft 2008.

[1] Tanking, dalam dunia basket NBA, bias diterjemahkan secara sederhana sebagai upaya suatu tim untuk mendapatkan rekor menang-kalah terburu dalam satu musim agar bias mendapatkan posisi yang paling baik di NBA Draft musim selanjutnya. Sistem Draft di NBA memang menyatakan bahwa semakin buruk rekor suatu tim, maka akan semakin besar pula kesempatan (odd) mereka untuk mendapatkan posisi sebagai pemilik nomor urut 1 di NBA Draft yang akan datang. Maka dari itu, banyak yang menganggap bahwa Tanking bisa juga diartikan dengan ungkapan ‘mengalah untuk menang’; tim akan menanggung malu atas segala kekalahan dan kenistaan di musim ini, namun mereka bias jadi akan tertawa lantang di musim-musim selanjutnya.

Foto: The Undefeated, pba-online.net, cbssports.com