Dua Aturan Baru DBL yang (Mungkin) Menyebalkan
Sebelum bereaksi emosional, sebaiknya tarik nafas dulu dalam-dalam, diam selama lima menit, baru beropini mengenai dua aturan baru DBL yang disosialisaikan melalui press release ini.
Berikut petikan paragraf mengenai aturan baru yang pertama:
“Sekolah yang akan berpartisipasi pada DBL 2013 tidak lagi diperkenankan menggunakan pemain yang menurut regulasi baru didefinisikan berstatus ’profesional’. Misalnya, seorang pemain dianggap berstatus profesional jika menerima segala bentuk pembayaran, baik berupa uang saku atau beasiswa basket, fasilitas tempat tinggal, transportasi dalam bentuk apapun yang berasal dari pihak sekolah tempat dia bermain (juga dari klub basket atau dari pihak lain).
Pemain yang berlaga di DBL 2013 tetap diperbolehkan menerima beasiswa, asalkan berdasarkan prestasi akademik yang dicapainya. Itu pun dengan batas nominal tertentu dalam satu tahun masa ajar di sekolah tersebut.
Diterapkannya regulasi tersebut diharapkan mampu memperkuat konsep student athlete yang telah dicanangkan sejak bergulirnya DBL pada tahun 2004. Konsep tersebut menekankan keseimbangan antara kemampuan di bidang olahraga basket dengan prestasi di bidang akademik.
”Dalam beberapa tahun terakhir, ada kecenderungan beberapa sekolah yang memperlakukan para student athlete tersebut layaknya pemain profesional. Cara tersebut mereka lakukan untuk mengejar prestasi secara instan. Setelah kami evaluasi, maka kami bertekad memantapkan lagi semangat student athlete yang telah kita bangun melalui liga ini,” ucap Azrul Ananda, Commissioner DBL sekaligus Direktur PT. DBL Indonesia. ”Tentu nanti akan ada dampak atau risiko, namun semua telah kami pertimbangkan. Kami percaya, semua keputusan ini dibuat untuk kebaikan jangka panjang semua pihak yang terlibat,” tambahnya.”
Beberapa anak basket sekolah barangkali mulai resah setelah membaca aturan baru di atas. Tetapi ada baiknya merenung dulu selama lima meniiit saja.
Lalu ada aturan baru kedua yang tidak kalah meresahkan, terutama bagi para pelatih. Berikut petikannya:
“Setiap tim wajib memainkan seluruh pemainnya pada setiap pertandingan. Tim dibagi menjadi dua kelompok, dengan rincian kelompok pertama wajib bermain pada kuarter pertama, dan kelompok kedua wajib bermain pada kuarter kedua. Pergantian pemain hanya boleh dilakukan pada anggota masing-masing kelompok tersebut. Kelompok yang sudah bermain pada kuarter pertama, dilarang bermain pada kuarter kedua, dan sebaliknya. Menginjak kuarter ketiga dan keempat, tim tersebut bebas menampilkan pemain yang dikehendaki.
Aturan tersebut diberlakukan untuk memberikan kesempatan bermain untuk seluruh pemain, serta membuat persaingan pada DBL 2013 menjadi lebih kompetitif.
”Salah satu misi lain diselenggarakannya DBL adalah meningkatkan partisipasi anak bermain basket. Namun, kami menilai, ada banyak sekolah atau tim yang kurang memberikan pengalaman bertanding untuk para pemainnya. Misalnya, walau sudah unggul jauh, tetap tidak mau memainkan pemain cadangan. Dengan regulasi ini, kami yakin semua pemain bisa lebih merasakan dan menikmati atmosfer DBL. Untuk regulasi ini, kami mendapatkan banyak masukan dan pelajaran dari para partner kami di berbagai negara,” jelas Azrul.”
Ok, muka-muka resah mulai bermunculan. Silahkan isi kolom komentar di bawah untuk melemparkan keluh-kesah atau mungkin kata-kata sepakat :)
…
…
…
…
…
Ok sudah lima menit. Berikut reaksi gw:
Tidak ada yang istimewa. Hanya karena kamu jago basket, bukan berarti kamu akan mudah mendapatkan beasiswa di sekolah. Ok, mungkin mudah. Mungkin kamu bisa mendapatkan beasiswa karena jago basket. Tetapi dengan aturan baru DBL, jika kamu menerima beasiswa hanya karena kamu jago basket, maka kamu gak boleh main di DBL. Yang juga berarti, apa untungnya sekolah memberi beasiswa kepada kamu?
DBL menuntut bahwa pemain basket yang bermain di DBL mendapat beasiswa (dari sekolah) bukan karena jago basket. Tetapi memang pintar di pelajaran-pelajaran sekolah. Pintar secara akademis.
Ide bagus. Brilian karena aturan ini sepertinya akan memacu anak basket untuk selain jago basket, tetapi juga pintar di kelas dan di sekolah.
Tetapi tunggu dulu.
Bukankah beasiswa itu diberikan justru karena seorang siswa memang berprestasi di bidang lain? Kalau masalah prestasi di sekolah, sepertinya akan lebih baik jika diberikan syarat nilai terendah saja. Jangan dipotong beasiswanya apalagi dihilangkan. Kasihan jika ternyata kemampuan akademisnya memang tidak sehebat si bintang kelas yang langganan ranking satu dari TK.
Tentang, “Sekolah yang akan berpartisipasi pada DBL 2013 tidak lagi diperkenankan menggunakan pemain yang menurut regulasi baru didefinisikan berstatus ’profesional’. Misalnya, seorang pemain dianggap berstatus profesional jika menerima segala bentuk pembayaran, baik berupa uang saku atau beasiswa basket, fasilitas tempat tinggal, transportasi dalam bentuk apapun yang berasal dari dari klub basket atau dari pihak lain,” ini sih bagus. Karena akan (mungkin) membuat si pelajar lebih fokus kepada pelajaran di sekolah daripada mencari uang. Walau tentu saja aturan ini juga membuka peluang untuk “main belakang” menemukan cara-cara curang untuk “mengakali” aturan ini.
Lalu mengenai aturan kedua, “Setiap tim wajib memainkan seluruh pemainnya pada setiap pertandingan. Tim dibagi menjadi dua kelompok, dengan rincian kelompok pertama wajib bermain pada kuarter pertama, dan kelompok kedua wajib bermain pada kuarter kedua. Pergantian pemain hanya boleh dilakukan pada anggota masing-masing kelompok tersebut. Kelompok yang sudah bermain pada kuarter pertama, dilarang bermain pada kuarter kedua, dan sebaliknya. Menginjak kuarter ketiga dan keempat, tim tersebut bebas menampilkan pemain yang dikehendaki,” sangat-sangat bisa dipahami. Aturan ini merujuk kepada semangat DBL yang mengutamakan partisipasi, bukan hanya prestasi.
Namun rasanya, duduk di bangku cadangan liga DBL saja sudah merupakan sebuah prestasi dan tentu saja partisipasi. Memainkan pemain atau tidak adalah hak prerogatif pelatih. Dan dalam sebuah tim, dimainkan atau tidak adalah sebuah prestasi yang digapai susah payah. Menerapkan aturan kedua tak ubahnya menegakan kembali semangat komunisme (hahahaaa). “Tak usah berusaha banyak, toh nanti juga pasti dimainkan oleh pelatih.” Atau dalam kalimat lain, “sia-sia berlatih keras jika ternyata di kuarter kedua tidak boleh bermain sama sekali.”
Konyol nantinya jika ada tim yang menang atau kalah karena aturan ini. Tidak adil.




kalau mulai kompetisinya kapan?
Resah sejenak,kemudian tarik napas dalam-dalam dan berfikir sejenak… It’s a fair rule!!
ngasih kesempatan buat “calon-calon pemenang” lainya.
Maju terus basket indonesia :)
Hahaaa….bagus ini aturan ,jadi gak mengesampingkan sekolah.. :)) yang kedua juga tuh …semuanya jadi bisa main …jadi bisa dapet pengalaman berlaga di dbl semuanya …semoga makin maju dah basket kitaaaa ….yaeay (,–)9
aturan nomer 1 cukup fair.
Kalo student yang uda kelas pro main … jelas susah pemain2 standard mengimbanginya.
kalo yg no. 2 agak lucu aja …
dimana q2 setiap tim dipaksa memainkan team cadangannya selama 1 quarter
Secara prinsip keadilan … maksudnya biar pemain cadangan juga ngerasain atmosfir pertandingan.
kita liat aja nanti gimana hasilnya :)
peraturan nomor 2 nya itu loh,yaampun..
aturan yang pertama saya ga setuju
karena belum tentu pemain yang dapat beasiswa basket, jeblok pelajarannya
asalkan nilainya bagus2 (sesuai standar), harusnya dibolehkan ikut DBL meski dia dapat beasiswa basket
klo aturan yang kedua, itu udah bagus kok, jadi pengalaman mainnya (jam terbang) bisa merata
Klo yang jalur prestasi basket gmn min?
Sebagai anak basket dengan minute play sedikit, saya menyetujui aturan kedua :D
Masih kurang ngerti nih. Intinya yg ikut dbl ga boleh beasiswa basket tp klo beasiswa akademik boleh?
Ada yang diuntungkan dan dirugikan dengan aturan baru seperti ini.
Yang diuntungkan tentu sekolah yang tak memiliki tradisi basket yang bagus. Mereka jadi ada “celah” untuk setidaknya ikut berprestasi. Kemampuan pelatih juga akan lebih teruji dengan peraturan itu.
Tapi yang pasti dirugikan adalah anak-anak yang mendapatkan beasiswa basket karena prestasinya. Percuma donk berprestasi kalau nggak bisa bermain :p
Kok saya rada gak setuju ya sama peraturan yg kedua? Bukannya ini berarti “merenggut kebebasan” yang dimiliki pelatih untuk memainkan pemainnya? Mungkin sudah ada strategi tertentu dari pelatih untuk memainkan seorang pemain lebih lama dari pemain lainnya. Bukan untuk menghalangi hak pemain lain bermain, tapi ini supaya strategi yang diterapkan bisa berjalan dgn baik..
gue mau tanya ttg aturan dbl yg baru. gimana caranya DBL tau kalo pemain2 tersebut mendapat uang saku, tempat tinggal dll ?
saya setuju dengan kedua aturan tersebut :) apa lagi peraturan yg kedua, kadang cadangan jarang dimainin juga sih haha, tpi knp tidak dibuat saja dalam 1 game setidaknya setiap pemain bermain selama 3 atau 4menit, kan lebih enak hahaha
Aturan yang pertama boleh juga :D yang kedua juga adil :) jadi biar semua player bisa maen, dan ga anggota tim tertentu yang banyak dikenal :)
gimana cara DBL tau kalau itu pemain yang diberi beasiswa atau gak?
Karyawan DBL itu hebat semua..Mereka kayaknya rela 24 jam melakukan penyelidikan :D
DBL akan lebih baik jika setiap seri nya di tiap kota berjalan dengan sistem group. Karena itu membuat semua tim merasakan atmosfer DBL yang megah. Karena setiap tim tidak hanya bermain 1kali apabila kalah. Jadi membuat setiap tim menjadi semangat dan lebih seru lagi
untuk damar, bukannya memang di DBL sudah diberlakukan sistem group dari dulu ?
hanya DBL Surabaya dan kota2 di jawa saja yang pake sistem grup dan klasemen. Liga DBL di juar Jawa pakai sistem gugur.
Maaf mas Damar, mohon tidak “Out of Topic” di sini.
di luar jawa g gan.. diluar jawa tu sistem gugur..
aturany emang bikin enk pemain, tp bikin pusing pelatih. . ! ‘ -,-
Stuju ama david, gmana cara dbl memantau pemaen2 nya yang dapet “fasilitas” bukankah peserta dbl sluruh indonesia??? Iya kalo surabaya aja bisa, kenyataan hanya IPH sby yang dari dulu di-banned tak boleh ikut dbl….. Kenyataan diluar surabaya,banyak yang kayak begitu juga dibiarkan aja, cara pengawasan yang penting nih…..
bukan hanya IPH bos, surabaya banyak yg begituan hahaha
btw emg iph kenapa ga boleh ikut DBL ya? padahal jago lho
ya jelas dong, lha sekolah IPH pemain2 nya hasil dari beli semua di sekolah sekolah.. yang pemainnya hebat, langsung dikasih Beasiswa, dll.
otomatis, DBL ga mau ngambil resiko, DBL bisa dibilang “adil” untuk saat ini..
@Edo : Kamu punya bukti kalau anak IPH dari beli..??tolong jangan berbicara tanpa bukti…bahaya loh….:)) kalo ada tolong diemailkan ke saya DETAIL..Jayalah basket Indonesia
Bagaimana mengetahui pemain tsb adalah pemain yg professional, sementara nantinya pihak sekolah bisa saja memalsukan data”nya
Repotnya lagi kalo dipalsukan data2 beasiswanya, dan baru ketahuan palsunya menjelang Final.
Nah pernah ada nih kasus data palsu baru ketauan pas final,jadi repot juga -_-
Peraturan nomor dua rasanya cukup bagus, pemain cadangan diberi kesempatan untuk bermain.
“Tak usah berusaha banyak, toh nanti juga pasti dimainkan oleh pelatih.”, nggak cukup sampai disini, dengan diberi kepastian minute play pemain akan memiliki motivasi lebih untuk tak bermain “malu-maluin” dengan berlatih ekstra keras.
Kalah akibat memainkan pemain cadangan pada kuarter dua? Tidak akan. Kedua tim sama-sama memainkan pemain cadangannya, kalah pun margin tak akan jauh. Toh masih ada dua kuarter lagi.
Pelatih juga bisa melakukan pemerataan pemain. Jadi yang bermain di kuarter pertama belum tentu pemain-pemain terbaiknya, begitu pula kuarter kedua, belum tentu pemain-pemain terburuknya. Kan kuarter 3 dan 4 bebas :)
peraturan no 2 justru merusak motivasi n ambisi pemain… harusnya pemain yg ingin dimainkan ya harus berjuang keras agar bisa jd tim inti… klo begini malah mengurangi motivasi berlatih.. kan pasti kebagian main ini…
ga adil utk pemain yg berlatih lebih serius.. sama2dpt kesempatan..
konyol
As I said, dengan jatah main yg dikasih, pemain bakal punya motivasi lebih buat nggak malu-maluin didepan temen-temen sekolahnya atau bahkan orang tuanya.
Mengurangi motivasi berlatih? Rasanya enggak. Pemain mana yang puas cuma main 10 menit atau malah kurang? :) Kan di kuarter 3 dan 4 mereka masih tetep bersaing buat dapet minute play. Untuk yang latiannya pas-pasan ya harus terima main 10 menit atau kurang.
Yang berlatih lebih serius mungkin setelahnya bakal main terus non stop di kuarter 3 dan 4 buat jaga kemenangan atau ngejar kemenangan. :)
Setuju sama Yoga. Harusnya itu jd motivasi supaya mereka berlatih sama keras dan sama serius dan harus punya ambisi untuk menang . Kemenangan tim itu bukan soal abisi sendiri, emangnya yg berlatih serius bisa menang sendiri? Ga kan. Ya so far yg sy liat pelatih suka tutup mata sama cadangan . Justru itu yg buat motivasi mereka turun. Karena percuma latihan capek2 cm jd cadangan. Skrg pelatih harus buka mata dan buka jalan supaya sluruh anak didiknya bisa main bagus.
bwt peraturan kedua aga membingungkan,gmn kl tim dr sekolah hanya terdiri dr 9 org?bgaimana cara mengatur timnya.
Nggak setuju sama ini…
“Sekolah yang akan berpartisipasi pada DBL 2013 tidak lagi diperkenankan menggunakan pemain yang menurut regulasi baru didefinisikan berstatus ’profesional’. Misalnya, seorang pemain dianggap berstatus profesional jika menerima segala bentuk pembayaran, baik berupa uang saku atau beasiswa basket, fasilitas tempat tinggal, transportasi dalam bentuk apapun yang berasal dari pihak sekolah tempat dia bermain (juga dari klub basket atau dari pihak lain).
Kasian mereka yang uda berjuang meraih prestasi dalam basket, mengabdi di basket, mendapat beasiswa di basket namun ujung-ujungnya nggak di bolehin main karena alasan basket.
basket makan basket dong :(
Tapi untuk peraturan kedua saya agak setuju, biar pelatih nggak pilih kasih juga sama pemain itu itu saja. semua pemain harus di explor dan bahkan di mainkan, karena ini kompetisi 12 pemain bukan kompetisi starter five saja.
Berarti dia sekolah bukan utk belajar, namun cuma fokus ke basket saja
kan masing-masing sekolah punya kebijakan. Meski atlit, tetap harus punya nilai minimum sama seperti siswa lain, jika ia tak mampu memperbaiki prestasi akademiknya, maka akan ada konsekuensi bagi atlit yg dpt beasiswa tersebut. Tentu atlit itu mau tak mau harus mengutamakan pendidikan, karena jika akademiknya hancur, maka non akademik akan terkena imbasnya.
karena ada sebagian sekolah menganggap juara basket di DBL adalah media iklan untuk mengangkat nama sekolah secara instan.
dengan mengambil pemain “bagus” dari daerah dan di kumpulkan di suatu sekolah berduit :D
sudah ada salah satu sekolah di jawa timur yang di larang bermain di DBL, tetapi mereka bisa JUARA NASIONAL :D
tinggal sekarang DBL memilih melakukan “PEMBINAAN” atau cuma sekedar mengejar pendapatan dari jumlah “PENONTON” yang datang.
Kobe (hoopsnations) lol. 2nd rule nya ga masuk akal menurut gw. Banyak dampak buruknya tetapi juga ad beberapa dampak baiknya. Tapi peran pelatih menjadi berkurang dan berkurangnya peran pemain “bintang”
bukanya peran pelatih bertambah ya? mamin pusing mikirin strategi yang pas dengan pemain pas-pasan. Justru bakal teruji
GOOD IDEA
Everyone must be have a chance to be ‘real’ player
Wow
Suprise. Ini harusnya dipatenkan. Why? Kalo dilihat dari segi pengamat dengan adanya ke2 aturan ini maka kompetisi ini lebih adil dan dari sekolah pun tidak akan berburu pemain bintang sig
Dilihat dari seluruh aspek pun harusnya hasilnya lebih positif
Kenapa?
Dilihat dari benchwarmer(alias cadangan dan sekutunya cadangan mati) : pasti mereka iri dong kok saya gag pernah dimainin? Nah sekarang ini waktunya para benchawarmer tidak akan. Lagi latihan asal2an. Tapi mereka diharuskan menambah jam latihannya supaya mereka bisa membuktikan bahwa mereka gag hanya sekedar penghangat bangku. Yup its time to shine
Dilihat dari pelatih
Pelatih pun akan mencari bagaimana cara mereka memoles para keseluruhan 12 pemain yang dipilih agar para pemainnya memaksimalkan seluruh para pemainnya. Dan ini bisa mengakibatkan munculnya para pelatih2 yg baru dan fresh.
Dilihat dari penonton
Para penonton akan merasakan game yang seru karena ke 12 pemain akan di push agar bisa memaksimalkan menampilak permainan yg lebih ngotot
Tapi minusnya mungkin akan terasa oleh talent scout karena pemain yg di “emas”kan akan turunnya minute playnya. Dan para scout gag akan melihat pemain “emas” secara maksimal
Mungkin ini spatah dua patah dari komentar gw
Regrads @arifersam
kalo yg didaftarkan hanya 9 pemain gimana ?
peraturan no.1 kayaknya kurang oke,
seseorang ikut klub itu demi masuk first team juga kok, percuma dong selama ini ikut klub eh ternyata ga boleh ikut dbl :((((
kata pelatih saya latihan itu jangan cuma di “sekolah” tapi juga di tambah di “klub” :))))
Ikut klub boleh, yang nggak boleh itu dapet “fasilitas” dari klub. :)
peraturan nomer dua agak membingungkan..emang syarat 12 pemain.klo tim daftarin 8 pemain?? apa harus main 3 orang di Q3 *logika*
Bagus sih, tapi untuk peraturan kedua agak meresahkan. Benar akan memainkan semua pemain, tapi lebih susah untuk membangun komunikasi antar setiap pemain prmain.
Menurut saya peraturan ke2 itu sangat memberatkan bagi team yang gak merata pemain nya
Setuju sama dua aturan ini.
Peraturan pertama: atmosfer DBL akan lebih terasa. Dengan aturan ini, prediksi kemenangan sulit ditentukan. Komentar yang biasanya ‘wah lawan SMA xxx ya? Pasti kalah. Itu kan ‘sekolah basket’ akan hilang. Karena memang berbeda latihan untuk stduent athlete dan prostudent athlete. Namun, bisa saja sekolah segera mencabut beasiswa demi muridnya bisa mengikuti dbl. Dan juga masalah data data, keasliaanya, perlu diselidiki dan diperhatikan
Peraturan kedua : saya setuju dengan aturan ini. Kenapa? Karena dengan peraturan ini, kerja keras tim dapat dinikmati hasilnya bersama sama. Bukan hanya tim lapis satu. Duduk di bench saja bukan merupakan prestasi. Dengan duduk di bench saja, dan tidak bermain, ada beban moral tersendiri. Dan itu dapat mematahkan semangat pemain dalam basket.
ummm, sorry to say, utk rule yg pertama saya setuju, mencegah aksi ‘beli’ pemain yg pada akhirnya semakin membuat persaingan tidak seimbang. rule kedua, itu apaan deh rule nya, ga penting dah, malah bikin semangat berkompetisi/persaingan jadi jelek yg bakal berujung pada pembetukan mental yg negatif. setiap player mestinya bersaing buat dapat minute play, apapun kondisinya. tiap pelatih pasti milih pemain mana yg dimainin sesuai dgn kebutuhan tim nya. apalagi bola basket adalah permainan yg sangat situasional. detik perdetik. saya rasa ga perlu lah rule kedua. kemunduran bagi DBL jika diterapkan
hahah lucu itu rules barunya..
“Sekolah yang akan berpartisipasi pada DBL 2013 tidak lagi diperkenankan menggunakan pemain yang menurut regulasi baru didefinisikan berstatus ’profesional’. Misalnya, seorang pemain dianggap berstatus profesional jika menerima segala bentuk pembayaran, baik berupa uang saku atau beasiswa basket, fasilitas tempat tinggal, transportasi dalam bentuk apapun yang berasal dari pihak sekolah tempat dia bermain (juga dari klub basket atau dari pihak lain).
susah dibuktikan ,sekolah bisa saja main belakang.. nggak rasional rules kaya gini.. ga ada yg lebih bagus lagi apa idenya dbl..
klo yg nomer dua setuju aja..biar rata tinggal pinterpinteran pelatih aja ini mah..
ony::>>> tinggal sekarang DBL memilih melakukan “PEMBINAAN” atau cuma sekedar mengejar pendapatan dari jumlah “PENONTON” yang datang.
dbl sekarang udah mikirin untung .. basis mereka kan cari duit sebanyak2nya kalau nggak gitu gmna mau jalan kompetisinya..
mending jadi panitia dbl aja.. dari pada peserta .. untungnya gede
Hehe, kalo ngga untung, nyelenggarain basket di 20 kota lebih gimana bisa ? Jadi menurut saya ngga ada salahnya kok cari untung, toh sengga-ngganya duit yang dikeluarkan penonton yang nantinya masuk ke kantong DBL, seimbang dengan hiburan yang diberikan dan kemauan DBL untuk ngadain camp, ngedatengin pelatih dari luar, ngirim pemain allstar keluar negeri dll :)
kan memang saya bilang ” basis mereka kan cari duit sebanyak2nya kalau nggak gitu gmna mau jalan kompetisinya..” hehe tolong dicermati
jadi panitia dbl gak untung jg kali bro
Panitia DBL untungnya gede kali.. dibayarin keluar kota, nginep hotel/kontrakan mewah, dapet honor, bisa sekalian liburan keliling indonesia sambil ngurusin basket..kalo secara finansial sih itu kayaknya ya urusan dept finance kali ya..
serius ga untung , masa sih. kerja keras mereka mendaptkan hasil yg diluar dugaan. :) ga percaya coba melamar saja
jadi panitia DBL untung gede? dicoba dulu aja.. gimana rasanya.
keuntungannya = pengalaman berharga.
Peraturan no 1 : kalo bener2 cinta basket, tingkatin prestasi belajar loe dong! YEAHHH !!
Peraturan no 2 : bikin pelatih harus jago ngatur strategi nih
DBL tambah sip ae !
2 aturan baru yg saya kira terobosan yg baik.
saya lebih tertarik ke aturan yg kedua, memainkan pemain berbeda di quarter 1 dan 2 (dibagi 2 kelompok). selain memberi kesempatan untuk seluruh pemain, dan menjadi motivasi untuk setiap pemain untuk menjadi lebih baik. ini justru menjadi tantangan baru untuk pelatih, dimana pelatih harus berpikir ekstra menentukan pemain mana yg msk kelompok 1 dan 2. tidak berarti pemain cadangan harus bermain di quarter 2 kan? ini titik serunya menurut saya. pelatih akan meramu timnya agar bisa berimbang di kelompok 1 dan 2 atau bahkan pelatih harus pintar membaca komposisi pemain yg dimainkan lawan dalam tiap kelompoknya. jika kekuatan 1 tim itu 100, saya artikan ketika seorang pelatih menentukan kelompok 1 dan 2 berimbang, kekuatan kelompok 1 = 50 dan kelompok 2 = 50. saya harap temen2 bisa mengerti maksud saya “pelatih harus pintar membaca komposisi pemain yg dimainkan lawan dalam tiap kelompoknya”. setiap pelatih tidak selalu menetukan kelompok dengan komposisi 50-50 kan :D
wow. hebat.
peraturan 1bisa disiasati. DBL pun pasti blom tentu tau juga.
sekolah yg mengambil pemian pro itu ngga semudah melepaskan pemain yg bikin populer sekolahnya.
saya berharap event basket semakin banyak, karna aturan inilah yg membuat event basket makin banyak dgn mempermudah semua aturan yg di rasa mengekang.
peraturan 2 . mirip banget dgn peraturan Basket Mini. harusnya DBL juga memberikan dasar basket dgn anti Zone Defense di situ. entah di Q1-2. game makin seru dan muncul bibit1 yg oke.
DBL itu PT. jadi udah paham resikonya. karena event/PT. maka memikirkan pemasukan uang demi berlangsungnya event ini sepanjang masa.
kalo krn beasiswa dr club ya berkarya di club aja, dan itu lebih mengarah.
kalo masalah nilai. bisa di buat krn hak sekolah. nah. . . . tinggal kkita bgaimana menanggapi. . .
kalo bilang setuku ato engga setuju. itu pasti ad . tp yg jelas jadikan semua ini tantangan.
aturan nomor satu oke lha. itu kan memacu murid untuk berprestasi di bidang non akademis dan akademis, bukan berarti basket cuma untuk juara DBL tapi prestasi akademisnya hancur.
untuk aturan 2 agak tidak masuk akal si. maksudnya mungkin baik, saya juga setuju kalau semua pemain harus main. tapi itu bukan sesuatu yang harus dibuat peraturan seperti itu, dan itu memang hak pelatih. apakah NBA saja seperti itu? malahan banyak juga yang di bench jam terbangnya kurang. justru itu yang memacu mereka untuk lebih baik agar dimainkan.
Aturan DBL soal pelarangan beasiswa basket ini sudah agak lama terdengar dengungnya. Pada awalnya saya agak kurang sreg, kecerdasan manusia itu ada berbagai macam dengan salah satunya adalah kecerdasan kinestetik, masak nggak boleh menghargainya dengan memberikan beasiswa atas prestasinya? Tapi setelah saya pikir2 lagi, cara pikir saya ini agak merendahkan mereka2 student athletes ini, memangnya kalau cerdas kinestetik itu trus ga cerdas yang lainnya? Tidak ada satupun orang di dunia ini yang bodoh, kita ini gabungan dari semua jenis kecerdasan yang ada. Jago basket bukan berarti ga bisa pintar di pelajaran matematika, atau sosiologi , atau bahasa Jerman kan. Dan yang utama, mereka ini adalah student athletes, student comes first. Bukan berarti umur segini belum boleh bekerja, but for now, education comes first.
Soal aturan kedua, saya menyatakan tidak setuju. Ya kita ingin partisipasi sebanyak-banyaknya orang dalam olahraga yang kita cintai ini. Tetapi aturan ini sudah merambah ke dalam ranah mengubah how the game is played. I’m sorry, but this is not basketball anymore. Poin kedua yang ingin saya tekankan, olahraga ini maju karena adanya kompetisi yang sehat. Sekali lagi, kompetisi YANG SEHAT. Kompetisi itu terjadi dalam 3 tingkatan: terhadap diri sendiri, terhadap rekan setim, terhadap tim lawan. Saya berlatih karena saya ingin menjadi pemain yang lebih baik daripada diri saya kemarin; saya berlatih karena saya ingin bisa lebih baik dari teman setim saya (terutama yang 1 posisi dengan saya); saya berlatih karena saya ingin membawa tim saya menjadi juara. Menurut saya wajar kalau seseorang tidak dimainkan karena belum kompeten, harusnya itu menjadi cambuk, jangan berhenti di zona nyamanmu Boy! Pada akhirnya, semua berusaha mencapai kemenangan, dan tentu saja dibutuhkan orang2 terbaik untuk itu. Kalau saya jadi pelatih DBL, saya akan tetap memainkan pemain2 terbaik saya sesuai strategi saya tanpa memperdulikan aturan kedua ini. Sayangnya, saya bukan pelatih yang berlaga di DBL, jadi omongan gagah berani saya hanya berhenti di kolom komentar ini.
untukperaturan ke-1sayasih setuju walau rasanya terasa sangat tidak etis untuk diterapka,karena itu adalah sebuah apresiasi akan bakat manusia yang tidak disia-siakan
namun untuk peraturan kedua,hal ini dapat menyebabakna banyak pemain yang malas bersaing malah akan menurunkan semangat juang untuk seorang pemain berkembang, sangat tidak dapat di pahami peraturan yang mengahruskan orang berkompetisi untuk ditimsendiri
Setuju sm peraturan nomor 1, karena itu memberikan peluang sama yang lain untuk bisa menjadi all-star Indonesia, klo ada pemain profesional sdh pasti para pemain profesional yg berangkat ke seattle. Tapi klo aturan yg nomor 2 kurang setuju, karena ada saat2 genting yg ngepaksa buat nurunin tim inti mereka…..
Kedua aturan baru ini menurut saya bagus, bagus untuk perkembangan basket, karena :
Pada Rule 1, menurut saya ini memang bakal ngurangin tingka seru (bukan tingkat keramean penonton) DBL, karena, mostly, pemain yang relatif oke di tingkat SMA, biasanya udah dapet beasiswa, entah beasiswa dari sekolahnya ato dari pemerintah ato dari sponsor. Sehingga yang bisa main ini cuma pemain yang ngga dapet beasiswa basket. Tapi, ini bikin adil juga, sekarang sekolah yang punya modal besar, ga bisa main modus bagi-bagi beasiswa buat anak yang jago basket (macem transfer gitu).
Tinggal faktor screening data dari internal DBL aja buat memastikan ngga ada kecurangan, dan menurut saya mestinya DBL sudah punya cara buat memastikan pihak pihak yang berkaitan main belakang ato ngga.
Rule 2 : Intinya gini, sapa si yang mau kalah ? Sapa si yang mau disalahin jadi biang kerok kekalahan tim ? Ngga ada pasti yang mau. Nah, menurut saya, ini bikin semua pemain di tim bakal jadi lebih niat latihan, karena mereka tau mereka bakal main, mereka dibutuhkan oleh tim. Memang untuk meratakan kemampuan agak susah, pelatih kudu jago menyatukan tim dan meramu tim biar seimbang. Sekarang bayangin, kalo anda misalkan main di tim yang isinya pemain terbaik di kotamu, setelah 5 game, kamu ga pernah main sama sekali karena yang main itu-itu aja, pada titik tertentu. pasti kamu akan ngerasa ‘cukup’, cukup berlatih karena pasti tidak akan main, cukup berlatih karena pelatih pasti bakal milih itu itu, memang ini pikiran yang ga profesional, tapi ingat, ini kompetisi anak sekolah lho, dimana emosi ‘kekanak-kanakan’ kadang lebih mendominasi :)
setuju sama 2 rule diatas :D
rule pertama
ga bisa dipungkiri..di indonesia basket belum bisa menjamin masa tua pemain.. bagaimanapun akademik harus lebih diperhatikan untuk saat ini.. trus kalo semua pemain profesional dikumpulin dalam 1 sekolah dapat beasiswa full dll, semakin memperkecil persaingan di liga.
rule kedua
ada 12 pemain di bench. andaikata ada 5 pemain andalan, kan bisa di bagi Q1 3 pemain andalan yang turun kemudian di Q2 sisanya yang turun,kemudian di Q3 dan 4 kan sudah bebas.. gak ada tuh yang namanya kuarter 2 kalah gara” cadangan, tim yang satunya juga punya cadangan kok. pinter” strateginya pelatih aja.. :D
menurut saya aturan kedua agak konyol. Bagaimana tidak, pemain d kelompokkan jadi dua, pemain yang bermain d Q1 ngk bs bermain di Q2 dan seterusnya. Pertanyaan saya, apa guna pelatih? apa asiknya basket lagi? kalau begini caranya aturan dbl yang mengharuskan pelatih memiliki lisensi mending d hapus saja. Mungkin cukup guru yang sama sekali ngk ngerti basket yang jadi pelatihnya.. dibola basket yang bermain basket bukan cuma atlet, tp pelatih juga. dengan ataran yang kedua ini taktik dalam bermain bola basket kurang bs di maksimalkan. Pada dasar ny olahraga itu menganut hukum rimba, siapa yang kuat dia yang bertahan. Jadi memang atlet yang terbaiklah yang memang bertahan. Jadi kesimpulan saya, sebaiknya aturan nomor dua di pertimbangkankan lagi demi kemajuan bola basket Indonesia d lihat dari dudut pandang kejuan dunia kepelatihan bola basket. terima kasih.
Yang main di Q1 boleh kok main di Q3 dan Q4, begitu juga pemain di Q2, boleh main di Q3 dan Q4 :)
Berarti cuma di Q1 sama Q2 aja yg pemainnya harus beda?
iyapss
kl pemain nya cm ada 9 org gmn?
buat rules 1 sih agak setuju karena itu akan menjadi dorongan utk pemain agar tdk terlalu fokus ke basket.
klo buat rules yg ke 2 setuju karena pemain cadangan akan terlihat kemampuannya saat bermain di lapang, pemain cadangan akan terlihat jg hasil kerja keras latihan yg di lakukan, dan pelatih tidak terus mengandalkan Starting fivenya XD
klo anak main basket terus emang jamin pinter?
kadang orang tua punya ambisi lain “nak ayah-ibu pengen kmu di dokter” tapi si anak jago, hobby dan berbakat main basket. basket bagi anak-anak apaalgi pelajar hanya sekedar hiburan, kepenatan saat bosan akan pejaran sekolah. ke depan, setelah lulus jadi pelajar, biarkan dia memilih akan fokus ke basket (profesional) atau meneruskan akademisnya.
basket bukan segalanya, ingat masa bermain basket itu relatif pendek, tanpa modal akademis, sulit bersaing di jaman sekarang ini
:)
Saya setuju peraturan kedua.soalnya dulu pas aq main di dbl aq cman jd cadangannya cadangan
1. Aturan pertama saya setuju banget,karena di indonesia itu menjadi seorang atlit blm tentu bisa menjamin kehidupan,jadi pendidikan itu haru diperhatikan juga.Pemain yang mendapat beasiswa,dapet fasilitas mess gt2 sejauh nilai akademik mereka bagus sebaiknya pemain tersebut mendapat kesempatan untuk berlaga di DBL.Kalau seorang pemain bisa menyeimbangkan antara prestasi akademik dan prestasi non akademik nya itu baru luar biasa.
2.Kalau peraturan nomer 2,ada untung dan rugi nya.Dimana peraturan ini bisa menjadi salah faktor kemenangan bagi suatu tim.nah,disini waktunya buat pelatih menunjukan startegi terbaik mereka disaat ada peraturan baru ini.
goodluck for DBL 2013…:)
Untungnya ditempat gue atlit menjaminkan pendidikannya jadi bs seimbang :))
sadissss haha percaya gue ruth :D
Peraturan pertama sih bagus2 aja. Karena konsep DBL kan student athlete (atlit dari siswa) bukan athlete student (siswa dari atlit. Jadi sisi akademik siswa tidak berantakan. Lagi pula akhir2 ini banyak sekolah yang main tarik pemain buat dongkrak prestasi basket, jadinya mereka gak bikin atlit sendiri melainkan nyomot punya orang.
Kalo yang kedua sih niatnya bagus. Tapi agak lucu karena membatasi gerak pelatih. Sebenernya ada bagusnya biar kemampuan pemain di tim harus merata. Tapi saya rasa dengan mewajibkan pelatih memankan setiap pemain paling tidak 5 menit sudah cukup. Lagipula peraturan yang keuda ini agak mengurangi rasa kompetitif pemain antar sesama pemain di tim mereka sendiri. Bisa menghilangkan pikiran bahwa gw harus bisa lebih jago dari si dia karena gw mau di starting 5.
sebelumnya saya tidak ingin menuliskan ini atas nama seseorang atau pihak tertentu melainkan pendapat dari diri saya sendiri, di sini saya sendiri meminta maaf sebelumnya karena disini saya tidak bermaksud untuk menjelekkan pihak-pihak tertentu,disini saya netral,dan saya mohon maaf jika ada salah-salah kata,toh saya juga manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan :)
nah,emang awalnya aturan2 baru ini sangat kurang masuk akal,ataupun yang dapat disebut dengan “THIS IS CRAZY MAAN!!”,tapi setelah memikirkan nya dengan kepala tenang,saya merasa aturan-aturan baru ini benar-benar “FAIR” alias “ADIL”
kenapa?nah, untuk aturan pertama,mungkin sedikit kurang tepat,tapi menurut saya pihak DBL sendiri harus melihat dahulu beasiswa/bantuan seperti apakah yang diberikan sekolah?karena seperti yang kita tau,banyaknya calon-calon atlit berbakat yang tidak mendapat dukungan dari masa muda nya,yah this is for the real,inilah masalah sebenarnya yang dihadapi dunia olahraga negara kita!,karena itu saya menyarankan lebih baik periksa dan lihat lah terlebih dahulu mengenai beasiswa/bantuan yang diberikan,bisa saja karena kurang mampu,atau dia pernah membawa sekolah nya ke level yang lebih tinggi(yang kita misalkan juara atau finalis di DBL) sehingga mendapat sedikit apresiasi dari sekolah,karena itu kita harus memeriksa lebih dalam lagi apakah dia mendapatkannya karena dia bukanlah dari sekolah tersebut,tapi diundang oleh sekolah atau mungkin dapat kita sebut “Atlit panggilan/bayaran”
tapi bagaimana kalau beasiswa/bantuan karena hal non-akademis itu didapat karena bukan seperti hal yang tidak diinginkan tersebut?jadi harap pikirkan atau periksa ulang aturan nomor 1
sedangkan menurut saya aturan nomor 2 sudah sangat “FAIR/ADIL” hanya saja perlu dievaluasi atau disempurnakan lebih lanjut
Regards,
Pelajar yang sepenuhnya cinta basket Indonesia dan penggemar DBL
Saya setuju dengan 2 peraturan baru di atas. memang sedikit aneh namun jika dilihat baik baik manfaatnya banyak dan cukup adil. Akan tetapi bagaimana dengan anak-anak yang sudah ‘terlanjur’ menerima beasiswa dari sekolah-/pemerintah/sponsor? mereka tidak punya kesempatan main kecuali diputus kontraknya. Apalagi yang sudah duduk di bangku kelas 2 SMA, kesempatannya sudah hampir habis dan sangat disayangkan.
Untuk peraturan pertama saya sangat mendukung, dan patut diacungi jempol.
Masalah bagi saya ada di peraturan kedua. Pergantian pemain itu hak pelatih dan tim. Bayangkan saja, jika skor tertinggal jauh, dan tim itu ingin mengejar ketinggalan, masa iya mereka harus memainkan tim lapis 2 mereka?
Saran saya, untuk peraturan kedua dipertimbangkan dulu. Jangan langsung diterapkan, tks
Sukses BASKET INDONESIA!!!
nah terutama untuk ke 2 aturan saya ingin sedikit menambahkan saran
untuk aturan 1
ini emang sebuah terobosan baru,tiap hal baru yang inovatif pastilah ada sisi positif atau negatif nya dan untuk aturan nomor 1 sangat bagus sebenarnya untuk dilaksanakan(sesuai alasan/komentar saya di atas)tetapi ini perlulah pekerjaan/pengawasan dan pengertian lebih
untuk aturan 2
saya ingin sedikit menambahkan alasan kenapa saya bilang Adil?
karena selain membiarkan tiap pemain berkembang/menunjukkan kemampuan dan kekompakkan mereka terhadap teman anggota setim masing2,ini juga memancing adrenalin para pemain,terutama jika dapat kita simpulkan secara sederhana,kita mencampur pemain inti dan pemain cadangan di tiap tim,nah ini berarti menambah wawasan dan membuat kekompakkan antar anggota makin tumbuh,karena seperti yang kita tau kekompakkan antar pemain dalam satu tim ucapkali hanya terjadi pada kelompok/golongan tertentu,misalnya pemain inti dengan pemain inti,pemain cadangan dengan pemain cadangan…
Semua hal di atas saya ucapkan atas dasar bahwa inti dari basket sebenarnya bukanlah di kemampuan saja ! melainkan KERJASAMA DAN KEKOMPAKKAN! PEMENANG SEJATI menurut saya adalah pemenang dan pemain yang dapat menyempurnakan dan menggabungkan KEMAMPUAN,PENGETAHUAN,TAKTIK/STRATEGI DENGAN KERJASAMA+KEKOMPAKKAN(KEBERSAMAAN)
regards,
Pelajar yang sepenuhnya cinta basket Indonesia dan penggemar DBL yang namanya tidak ingin diketahui
Ehm, kurang setuju sama peraturan pertama. Kasian buat pemain yang udah berusaha buat ngefokusin diri di basket. Sia-sia. Tiap orang kan pasti punya kelebihan masing-masing, prestasi akademik gak bisa disamain sama prestasi non-akademik dong.
Nah, kalo sama peraturan kedua, setuju nih. Kasih kesempatan buat pemain cadangan. Adil. Kasian yang udah capek-capek latihan, tapi jadi camat alias cadangan mati.
We’ll see…
Bagaimana kalau pemainnya itu tidak diberi beasiswa, uang saku atau apalah itu dari pihak manapun, tp dia mainnya bagus dan terkenal di kotanya? :)
rule no 2 itu “angin segar” bagi cadangan,at least setiap pertandingan pasti main ga ada lagi kata “cadangan mati” :) setuju aja sama rule no 1 dan 2
Waaaaaahhhhh langsung shock liat 2 aturan baru ini… Komen dikit aaahhh…
Buat point 1 , gw rasa beasiswa seharusnya memang buat yg berprestasi apapun itu bentuknya mau akademik atau olahraga… mungkin beasiswanya aja tetep diberikan tp fasilitas yg lain spt uang saku atau sponsor2 lainnya yg gak usah… Dgn adanya sponsor justru yg buat pemain spt diperjualbelikan pdahal masih sekolah…. Gw gak setuju klo krn dpt beasiswa jd gak boleh main di DBL….gak selamanya org yg bagus diakademis akan selalu sukses…. Pemain basket memang dituntut untuk pinter tp gak cuma diakademis, jg pinter dilapangan…
Buat point ke 2, gw bener2 gak setuju… Merampas hak pelatih untuk menurunkan pemain dan merampas hak pemain untuk selalu bermain baik… Motivasi untuk main bagus akan hilang.. Krn mereka bakal mikir ahh nanti di q2 gak main…buat bench, harusnya sadar untuk latihan lbh baik spy lebih bagus lg mainnya… Gw yakin pemain basket menjadi bagus berawal dr latian yg rajin…. Gak ada yg sia2 dr latihan yg rajin….
“Motivasi untuk main bagus akan hilang.. Krn mereka bakal mikir ahh nanti di q2 gak main…”
Lhaaa, Mbak. Kan di Q3-Q4 bakalan bisa turun lagi toh :D
memang bs turun… tp klo misalnya q2 ketinggalan jauh, bergantung ke q3-4 memang bs???menaikkan mental pemain yg sedang ketinggalan jauh kan bukan hal yg gampang Gan :D
Aturannya Menarik !! Hehehe
Mengenai aturan pertama sebenarnya selama nilai batas minimal tercapai sy rasa tidak fair dan terkesan membatas-batasi apabila pemain di banned tidak boleh ikut kompetisi hanya karena beasiswa , diluar sana banyak loh pemain yg bagus (jago) tapi ngga mampu dan berharap dari beasiswa prestasi (basket) .Kalo pendapat extreme nya lah biarkan pemainnya belajar jadi pemain semi-profesional hehehe
Mengenai aturan yang kedua menurut sy bagus dan buat persaingan makin seru, kan bukan berarti yang maen quarter 1 itu harus starter dan quarter dua itu bench disinilah diliat jelinya pelatih buat padukan tim nya . Kalo ada anggapan peraturannya bisa buat pemain cadangan malas menurut sy justru sebaliknya karena setiap pemain yang turun pasti pengen ngasi yg terbaik dan ngga mau malu2in . Disamping itu bisa buat pemain starter tetap waspada karena bisa sja posisi starter nya direbut sama bench ! Persaingan positif dan sehat bisa terjadi bisa juga mengajarkan pemain muda DBL bahwa untuk dapat posisi starter dan mempertahankannya itu tidak mudah harus dengan KERJA KERAS ! :)))
Contoh paling gampang sih fenomena Jeremy Lin musim lalu di NYK ada yang menyangka jeremy lin akan sebesar sekarang ? Semua tidak akan terjadi kalo tidak ada yang namanya KESEMPATAN !
yang pertama setuju,gue sih ga setuju ma yg kedua…..masa ntar kita udh latian capek2 trus tim lg kejar2an pemain bintangnya ga main…kan hak seorang pelatih untuk ganti2 pemainnya,kan seorang pemain harus berjuang,bagaimana caranya biar ga di taro di bench sama pelatih,klo kaya tadi mereka harus main di Q2 berarti mereka mikirnya gini “Ahh gue gausahh latihan ajaa ntar gue pas di DBL Q2 bisa main kok ntar” klo kaya gitu,yg males latihan kayanya makin banyakk,kan di tim basket tiap sekolah,ada murid yg main basketnya itu niat dan ada juga yg ga niat…sekian terima kasihh :) di baca ya om azrul
tapi pelatihpasti juga mempertimbangkan pemain yang jarang latihan. ada juga yang jarang tapi mainnya bagus tetap dipertimbangkan untuk diikutkan
Kurang setuju sama yang kedua. Menjadi starter dan menjadi pemain yg di mainkan itu usaha. Kalau begitu, yg sering di cadangkan bakalan malas latihan, toh main juga ujung”nya
wah gak bakalan bakal malas2an mbak.pelatihnya bakal marah2 lantaran bisa jadi kartu mati. malah akan membuat pelatih hrs bisa melatih 12 pemain merata kemampuannya. misal starter 5 bisa membuat leading 10 point. di Q2 pemain terlalu jomplang dgn starting 5 trus kalah di Q2 20 point. Q3 pemain starting 5 main lg n bisa mengejar akan membuat pertandingan jd seru.kejar2 angka makin menarik. dgn tensi pertandingan yg keras. fault makin byk terjadi buat pemain starting 5 makin berhati2 melakukan fault. ini menghasilkan point lbh byk dan pertandingan lebih seru karena point kejar2an. itu pendapat saya.
Peraturan yg pertama sih oke bgt, jd bisa berkembang bgt semua pemain muda dan ga itu2 aja yg menonjol, dan dampak nya pasti bakal dahsyat buat sekolah yg slalu ngandelin best athlet mereka. Jadi Tuhan itu maha adil ya :) hehe
Klo yang ke dua bikin repot yah, harus bisa meratakan kekuatan semua skuad team.. Oke sih tp butuh kerja keras bukan hanya bagi pemain tp pelatih juga
Tambahan, menurut saya aturan nomor dua sebaiknya tidak perlu dilakukan pada saat kompetisi memasuki babak playoff. 3 pertandingan saat babak grup rasanya sudah cukup. Biarkan pertandingan saat playoff hingga final berjalan sewajarnya pertandingan basket.
Atau mungkin hanya berlaku setengah kuarter saja. Karena saat playoff banyak penonton yang bukan sekedar pendukung, tapi pecinta yang butuh suguhan pertandingan basket panas.
Aturan pertama dan kedua saya gak setuju sih,
Yang pertama karena aturan DBL bukannya memang hanya memperbolehkan pemain yg mempunyai standard nilai yg bagus yg ikut tanding, lalu kenapa dengan pemain yg sudah punya beasiswa basket? Kalo dia nilainya sudah mencukupi ya harusnya boleh. Jangan aturan yg satu menabrak aturan yg laen.
Lalu yg kedua, hak pelatih untuk bebas memainkan strateginya hilang dan minute play yg sedikit berarti kualitas pemainnya memang belum bagus. Persaingan selalu ada dalam segala hal. Yang kerja keras yang menuai hasilnya. Aturan kedua bikin manja pemain bermental tempe.
Saya setuju dengan peraturan pertama,, bisa memberikan si anak juga termotivasi untuk meningkatkan prestasi tidak hanya di Basket saja, tapi juga prestasi akademiknya.. :)
Sedangkan peraturan kedua menurut saya cukup hanya sampai pada semua pemain dimainkan,, tanpa membagi kelompok pertama bermain di babak pertama etc… Jadi semua pemain yg dicadangkan pun bisa menambah jam terbangnya…
Maju terus Basket Indonesia!!! :D
peraturannya oke juga. Yang kedua apalagi, jd pelatih bisa fokus kesmua player,g cm unggul yg udh unggul. Biar adil. Selama ini kebanyakan pelatih terlalu mendominasikan permainan kepada player mereka yang unggul, sisanya cuma cadangan yang diturunkan ketika tim sudah diatas angin alias udah pasti menang . Besok2 yang difokusin yang bagus2 aja.
Min peraturan 1 keren, tapi yang 2 agak gimana gitu, misalakan q2 dimulai dan second line up yang main tapi diantara mereka tiba2 ada yang penyakitnya kumat (contoh) dan harus diperhatikan lebih, pertanyaannya apa boleh ngambil dari first line up?
yesss… ini baru pembibitan pemain basket, di harapkan tiap sekolah melatih pemain yang biasa menjadi pemain yang ber kualitas… setuju….(y) (y)
Pertama,mari kita lihat konsep dasar event DBL yaitu STUDENT ATHLETE
Dari situ aja udah keliatan , student,ya,pelajar.Dimana kepentingan utamanya jelas ajalah belajar,baru.baskett sebagai hal nomor 2.DBL disini amat menegaskan konsep ini pada peraturan baru nomor 1.Sebut saja kota S dimana juara tiap event nya udah pasti itu-itu saja,penonton jadi males menonton.Juga para pemain baskett sekolah lain juga langsung pesimis duluan
Peraturan nomor 2 ini baik,amat baik.Paling tidak tiap player sudah latihan tim di sekolahnya untuk ikut DBL,sepayah apapun mereka,harus tetap DIHARGAI!DBL memberi kesempatan bagi mereka-mereka,apalagi event ini hanya bisa diikuti paling tidak 2x seumur hidup
Ingat,banyak para player yang sudah bekerja keras tp tetap sulit mendapatkan minute play banyak dikarenakan banyak faktor,bisa cara main,dsb.Kerja keras tak menjamin kesuksesan,tetapi meningkatkan persentase sukses.Justru disini DBL menghadirkan kesempatan bagi mereka,supaya mereka makin termotivasi memperbaiki kekurangan mereka untuk mengoptimalkan minute play yang merupakan kewajiban dari DBL tersebut
Disini justru peran dan kemampuan PELATIH diuji untuk berpikir bagaimana player dalam team menjadi rata,semua bisa main dan tak hanya mengandalkan orang-orang tertentu saja.
Sekian opini dari saya.. :D
setuju, karena kita dituntut untuk belajar akademis, dan juga bertujuan baik agar pelatih lebih adil
Saya setuju aj dengan peraturan keduanya.
Tapi gmn cara membuktikannya?
Trus bila anak tersebut masuk sekolah karena prestasi basketnya tetapi tidak mendapatkan beasiswa basket tetapi mendapatkan beasiswa anak kelurga tidak mampu apakah boleh main?
Aturan ini juga perlu disosialisasikan jauh hari sebelum DBL bergulir.
Gimana kalu peraturan ini berlaku tetapi peraturan umur dijadikan 1 januari. Toh banyak pemain bagus n pandai dlm akademik tapi g boleh main gara2 umur.#usulan
intinya setuju tapi sebagai pelatih juga pusing tapi juga tantangan
bravo basket Indonesia
dua regulasi baru ini sangat menarik, kenapa? pertama DBL berusaha untuk membuat kompetisi lebih menarik dengan cara ini supaya tidak ada lagi skor yang sangat sangat sangat sangat timpang sekali (majas hiperbolanya terlalu ya :p) selain itu juga unutk menghindari dominasi sekolah-sekolah yang punya tradisi basket kuat. kan kalo kita liat yang juara DBL sekolah itu-itu saja kan pasti bosen, kalo gitu terus nanti bisa dipastikan liga ini lambat laun akan ditinggalkan oleh penonton, jangan sampai apa yang pernah terjadi pada liga basket pro kita dulu terjadi juga pada DBL.
unntuk regulasi nomor dua sangat bagus, karena tidak akan ada lagi yang namanya “timnas” (tim pemanas) bangku cadangan, selain itu persaingan antar pemain untuk bisa jadi starting five akan seru. toh anak basket sekilah mana yang gak mau main di pertandingan basket selevel DBL, meski cuma bermain satu quaeter itu sudah menjadi sebuah kebangggan buat meraka. sama seperti sloan DBL yaitu PRIDE! :D
kalau pemainnya hanya 9? apa tetap dipaksakan jadi 2 tim?
apalagi ketika pemain tidak dimainkan selama 1 quarter pastinya saat bermain lagi di Q3 keadaannya sudah tidak ‘panas’ lagi. Lalu perlu dipertimbangkan lagi apabila pemain bermain selama 1 kuarter penuh apakah fisiknya memadai? apakah dia mampu bermain stabil? jika sudah seperti itu pelatih pasti bisa melakukan rotasi dengan melihat kondisi di lapangan.
ada peraturan jg mungkin di dbl 1 team hrs 12 pemain. amit2nya kalo sampe 3 pemain cedera dlm 1 pertandingan rasanya jarang terjadi. kalo terlalu sering membuat fault malah membuat pelatih hrs memberi fundametal basket yg baik biar gak terlalu melakukan fault pd pemain.wah gak bakalan bakal malas2an mbak.pelatihnya bakal marah2 lantaran bisa jadi kartu mati. malah akan membuat pelatih hrs bisa melatih 12 pemain merata kemampuannya. misal starter 5 bisa membuat leading 10 point. di Q2 pemain terlalu jomplang dgn starting 5 trus kalah di Q2 20 point. Q3 pemain starting 5 main lg n bisa mengejar akan membuat pertandingan jd seru.kejar2 angka makin menarik. dgn tensi pertandingan yg keras. fault makin byk terjadi buat pemain starting 5 makin berhati2 melakukan fault. ini menghasilkan point lbh byk dan pertandingan lebih seru karena point kejar2an. itu pendapat saya.
Untuk peraturan nomer 1, saya antara setuju dan tidak. Setuju karena bisa menumbuhkan persaingan yang lebih merata, fair dan tentu nya juga menarik. Tapi bagaimana dengan sekolah yang sudah terlajur memberikan beasiswa? Itu akan menjadi sia2, terutama bagi siswa itu sendiri. Atau mungkin yang satu tim seluruh nya merupakan beasiswa?
Memang sisi akademis tidak boleh di hilangkan, tapi kalau siswa yang di berikan beasiswa bisa menjaga nilai nya tetap bagus dan bisa mengikuti pelajaran, terlebih sikap nya juga bagus, atau mungkin persayaratan beasiswa tersebut salah satu nya haris menjaga nilai dan sikap? Perlu di pantau dan di pertimbangkan kembali. Atau jika memang fix, di berlakukan mulai tahun 2014. Karena akan sia2 jika sudah susah2 beasiswa, berlatih selama 1 semester lebih dan hasil nya nol.
Untuk peraturan nomer 2, bisa dibilang cukup fair, karena cadangan nya hanya di wajibkan main di q2. Untuk mengasah kemampuan pelatih dan jam terbang para pemain bisa dibilang oke. Tapi untuk mental para cadangan? Mungkin sebagian besar tidak akan berlatih 100 persen karena akan tahu akan dimainkan setidak nya 1 quarter yakni quarter 2. Tetapi itu tergantung pemain itu sendiri. Secara peraturan, saya cenderung setuju peraturan kedua ketimbang pertama
Harap pihak DBL mempertimbakan kembali. Saya hormati segala keputusan yang akan dibuat nantinya. Semoga itu yang terbaik.
Salam, dari pelajar dan pemain yang ingin membawa basket Indonesia di pandang tinggi di dunia. :)
Setuju banget dengan dua peraturan ini. Dijamin deh, dengan peraturan yang demikian, pertandingan ketat dan menegangkan bakal ada di setiap game. Nggak bakal ada satu dekolah yang selalu dominan setiap tahunnya. apalagi dominannya kalau “cari” pemain. Lebihnya lagi, nggak bakal ada deh sebutan pemain “superior”. kompetisi bukan hanya one man show.
kadang, miris juga sih ngelihat pemain yang jadi pemain cadangan mati, alias ga pernah dimainkan, padahal porsi latihannya sama. nahlo gimana bisa berkembang. bukankah bermain di DBL merupakan sebuah kebanggaan?
sepakat deh dengan dua peraturan ini, siapa sih yang ngide’in. pingin aku salamin. hehhe.
maju terus ya berbasketan Indonesia.
semangat juga untuk semua perintis Kompetisi DBL ini
semangat terkhusus buat yang akan meliput dan menulis seluruh pertandingan DBL 2013.
sebenernya setuju sama kedua rule itu…
tapi yang jadi masalah, gimana kalo squad tim ga sampe 10 org?
ambil contoh aja SMA Hang Tuah Tarakan..
mereka bawa anggota cuma 8 orang , tapi bisa juara seri East Kalimantan…..
solusi buat problem kaya gini gimana ya? kan ga fair juga kalo ngelarang tim buat ikut kompetisi karena hanya anggota yang ngga sampe 10 orang..
Kan di sekolah itu ngga mungkin siswanya cuma 8 orang, se-jago apapun sebuah tin di NBL atau bahkan NBA sekalipun ngga ada kan yang pemainnya cuma 8 orang ? Rasanya masalah jumlah pemain itu sederhana :)
Lah itu buktinya DBL East Kalimantan Series 2012 yg juara SMA Hang Tuah Tarakan bawa anggota cuma 8..
Bukti konkrit lho itu :))
boss itu pasti bakal buat aturan deh dbl 1 team hrs minimal 10 pemain. mana mungkin buat aturan dgn aturan yg buat jd rancu.
setuju ke 2nya. langkah berani demi fundamental basket indonesia. 1. saya usul aja kalau udah ada rule ini dbl atau perbasi perlu memikirkan liga bagai mereka untuk minute play yg berkurang dan pengalaman bertanding yg terenggut. 2. untuk rule 2, kenapa kita mikir saat game? ayo coba kebelakang sedikit 12 pemain yg dipilih pasti seleksi semua pasti berlomba2 untuk mengisi spot 12. jangan menyempitkan jadi 5 dong. basketball is 12+ + not 5. kalau pemainnya cuman bisa atau bagus 5. salah pelatih dong bukan pemain. emang gak akan ada 12 pemain 1vteam sama skillnya. tapi saya percaya kalau d sekola sistem kepelatihannya g instan. pasti skill pemain merata paling jelek ya gak jauh2 amat. so lets the game begin.
Banyak kelimpungan nih mikir soal 2 aturan ini kayaknya. :p
Tapi saya mau sumbang saran yah.
Soal Peraturan pertama, ini harus dicermati lebih dalam. Saya ingat cerita Juan Laurent yang memilih bermain di DBL daripada bermain di Timnas Junior. Alasannya karena beasiswa akan dicabut oleh sekolah apabila dia tidak bermain membela sekolahnya di DBL. Alasan itu yang membuat dia memilih bermain di DBL karena beasiswa. Mungkin banyak juan-juan lain yang bernasib serupa. Pendidikan yang mereka nikmati karena kemampuan mengolah bola basket. Mungkin peraturan ini bisa berlaku untuk 2 thn ke depan. Karena mengingat tahun berjalan tidak bisa memberhentikan beasiswanya. Atau mungkin peraturan ini diberlakukan di JrBL untuk tahun ini dan berlaku di DBL di musim berikutnya.
Yang aturan kedua justru saya mendukung. Karena itu tinggal kepintaran pelatih meracik lineup 1 dan lineup 2 dengan sebaik-baiknya.
Terimakasih.
DBL Indonesia saat ini sedang bersusah payah membangun reputasi olahraga bola basket, ini bukan event “ecek-ecek” rule ini pasti sudah dibahas secara matang sebelum diberlakukan. Pasti melihat banyak kasus yang terjadi setelah beberapa tahun penyelenggaraan. Tidak mungkin kekeurangan itu dibiarkan saja, ini sebuah langkah besar demi menyajikan kompetisi yang berkualitas. Semoga tidak ada lagi ketimpangan kekuatan peserta, maju terus mas Azrul demi basket Indonesia SEHAT dan BERPRESTASI!!!!
temenku ada yang masuk SMA pake jalur prestasi basket. gimana tuh? pelatih harus tau aturan baru ini nih hmmm
Saya mau nulis komen ya, saya bukan aceng fikri yg bisa nyelesain soal lewat sms, tapi saya mau ikut menyelesaikan masalah lewat blog (kerenn):))
Jadi begini pak,bu,om,tante,dek, saya gak setuju sama yg pertama. “Because what?” (Kalo kata ahmad dhani) kasian loh om azrul mereka, dapet beasiswa basket karena mereka bisa, dan coba di telaah lebih dalam lagi.siapa tau mereka ada yg keluarga nya memang kurang mampu.
Jadi kasian dong mereka :’(, “jangan sampai keadaan yg membuat mereka tidak bisa berprestasi”
Ahh pokok nya saya sedih lah kalo mereka gak main *nangis nih!* ambil tisu*
Kalo yg ke-2, saya cuma mau ngomong, pasti semua pelatih akan ngomong “WOW! IT’S MAGIC” | *ehhh salah deh–”, pelatih nya bakal ngomong “INI GW ROTASI PEMAIN NYA PUYENG NYA UDAH SAMPAI TINGKAT CETAR MEMBAHANA ULALALA!”
Sekian, samlekum
_aceng masih sayang fani♥
Saya ngga setuju peraturan pertama, karena semua atlit basket yg berbeasiswa belum tentu akademisnya jelek.
Terimakasih ya harap dibaca :D:D
#RITUIT dulu dikit :) #salamragunan! Ehh #salamolahraga!
menurut saya ini peraturan bagus punya, khususnya peraturan nomer 2, knapa? soalnya itu memberikan kesempatan bagi seluruh anggota tim untuk bisa ngerasain atmosfir pertandingan khusus nya dbl. 1 tim itu ada 12 pemain maksimal, tapi belum tentu semua nya bakal di mainin, jadi mereka yang ngga di mainin itu ngga tau rasa nya bermain basket membela sekolah dan di tonton banyak orang. Kalo masalah “takut” nya pemain yang biasa nya ngga dimainin itu buat banyak kesalahan, menurut saya disinilah mereka main lepas selama 1 quarter penuh , nunjukin apa yang bisa mereka sumbangin buat tim nya, dan lagi kita sebagai 1 tim harus percaya sama teman setim kasih support atau apapun yang bisa buat mereka itu semangat ++ naikin mental. Sekian komentar nya min:D semoga perbasketan Indonesia ngga kalah bersaing sama negara” luar sana. Amin
Wassalam.
Fair enough!
Aturan no 1, sebaiknya diberlakukan bertahap,
misalnya : untuk kompetisi DBL 2013, pemain beasiswa maksimal 3 pemain, dan DBL 2014 baru dibelakukan sepenuhnya,
Kasian pemain beasiswa yang sekarang kelas 2 SMA, mereka sudah berlatih keras, tiba2 mendadak dihentikan kesempatannya
Saya tidak setuju dengan peraturan pertama, kasian para atlit yg udah terlanjur mendapat beasiswa kan belum tentu atlit itu jelek akademisnya.
Paling ga setuju tuh yang nomer 2 , masa peraturannya kaya gitu itu ga akan jadi tantangan buat pemain cadangan .Mereka ga akan termotivasi oleh pemain utama , coba aja deh misalnya mereka yang pemain cadangan ini ga dimainin satu pertandingan .
Mungkin mereka akan intropeksi , apa saya kurang jago jdi ga dimainin , dengan begitu itu akan memacu semangat mereka untuk berlatih lebih giat lagi bersaing secara sehat dengan pemain utama untuk mendapatkan kepercayaan sang pelatih.
Jadi , serahkan semua kepada tim dan pelatih jangan sampai ganti pemain aja di intervensi haha :) mereka lebih tau timnya masing masing dan mereka pasti akan membawa semua pemain maju kok :)
Udah ah segitu aja haha follow sekalian promosi nih @BobyAdhy
Saya kurang setuju dengan peraturan kedua. Peraturan kedua sudah di berlakukan pada pertandingan umur kelompok umur 12 dan menurut saya itu kurang tepat karena berjalan dgn baik.Skrng gini setiap sekolah tidak selalu memiliki pemain yg berkualitas sebab sekolah adalah sarana pendidikan bukan sarana olah raga ataupun tempat berkumpul nya para atlet, kecuali sekolah atlet ragunan. Bagaimana sekolah bisa mengeluarkan performa pemain yg baik kalau pemain di jatahkan dalam bermain basket di suatu pertandingan, pertandingan ini di buat untuk menunjukkan kualitas pemain. Kalo ingin merubah peraturan kenapa tidak mengikuti peraturan fiba? Mungkin perubahan nya jauh lebih baik di banding menambah peraturan seperti nmr 2 tersebut.
Menurut saya, bagus dengan adanya regulasi seperti ini. Ada banyak manfaatnya buat kedepannya,
Mungkin ada di suatu daerah yg juaranya cuma itu itu saja, tau knapa?
Karena sekolahan memberikan semua fasilitas, dr beasiswa,mess, tempat fitnes dll. Mengambil pemain2 bagus dari luar2 daerah, ya walaupun mereka melatih dengan baik juga. Tapi tetap saja semuanya bakalan menjemukan bila yg juara itu2 saja.
Intinya saya setuju dgn ygertama karena akan ada pemerataan tim kedepannya.
Regulasi ke 2, saya sangat setuju dengan memberikan aturan tersebut, cm jgn sampai menjadi bumerang ni waktu pertandingan, pelatih harus pinter2 milih pemain buat maen di grup 1 dan ke 2.
Saya intinya setuju dengan pemerataan jam main/minute play nya.
Sebentar sebentar, kompetisi basket di Indonesia buat anak sma emg cuma DBL aja ? Kalo gitu, ini sebenernya celah buat bikin kompetisi anak sma yang bisa dikatakan jauh lebih seru, soalnya isinya anak yang udah dapet sponsor. Ada yang mau bikin ? :)
Satu lagi, maksud rule nomor 1 mungkin maksud dari DBL biar kedepannya ngga ada clash clash lagi yang bikin repot, macem kasus Juan Laurent dulu.
saya , disini tidak mengomentari peraturan no 1 , namun melainkan no 2 .. saya pernah jadi panitia DBL 2011 west sumatera series . ada 1 tim dari luar kota hanya mengirimkan 8 pemain saja , bagaimana jadinya jika di bagi 2 tim yg akan bermain 2Q saja ?? apa mereka memaksakan menambah pemain , dan itu hanya akan merusak strategi pelatih , ini kompetisi lo , bukan Pemain saja yg berperan , pelatih juga , bahkan suporter pun di hargai …
juga , bagaimana dengan pemain yg bisa dibilang menjadi “STAR” di timnya ?? apa adil cuma mendapat jatah 2Q ? sehingga dia tidak bisa berbuat banyak demi tim nya untuk meraih kemenangan ..
sementara itu , ada pemain yg bisa dibilang ogah ogah an untuk rajin latihan karena berfikir ” ah buat apa latihan buar tim inti , toh ntar gue juga dapat kesempatan 2Q”
alangkah baiknya peraturan ini di ringankan dengan cukup “WAJIB MEMAINKAN SEMUA PEMAIN ” tanpa ada aturan pembagian Quarter ..
sekian , terimakasih .. :)
Saya sangat setuju untuk 2 rule di atas.
Untuk rule yang pertama, dapat meminimalkan kecurangan sekolah-sekolah besar yang mempunyai modal besar untuk melakukan “penyuapan” pemain dari klub basket dengan memberi beasiswa secara gratis dll, sehingga pemain yang ingin ikut bermain DBL mempunyai motivasi untuk lebih giat belajar agar keinginannya tercapai.
Untuk rule yang kedua, agar semua pemain dapat merasakan bagaimana atmosfir saat bertanding meskipun minute play pemain cadangan sedikit dan agar seluruh anggota tim bisa merasakan suka duka selama pertandingan, sehingga mereka bisa lebih termotivasi untuk berlatih dengan serius dan memungkinkan mereka menjadi lebih kompak.
Setuju. Entah kenapa saya merasa aturan baru ini sesuatu yang ditunggu-tunggu kebanyakan anak-anak basket.
Untuk aturan Pertama. Di kota saya, ada sekolah yang memperlakukan timnya layaknya tim di kompetisi profesional. Mungkin ada juga juga yang seperti itu di kota lain. Setahu saya, mereka kasih beasiswa, program latihan layaknya atlet profesional, bahkan sampai ada yang kasih biaya hidup kepada anak-anak didiknya. Dari sudut pandang tim-tim tersebut, ini bisa jadi salah satu strategi menang.
Sayang sekali tidak semua tim (atau sekolah) punya fasilitas yang sama atau dukungan yang sama dari sekolah. Dari sudut tim lain yang dengan catatan tidak punya fasilitas yang sama, ini jadi tidak adil ada dalam satu wadah kompetisi. Kompetisi didominasi terutama oleh tim-tim yang mampu. Kenapa nggak ikut liga profesional kalau gitu, ya kan? Kecuali ini praktik yang umum, seperti layaknya liga profesional, baru bisa dikatakan fair.
Kompetisi berasal dari semangat yang sama. Basket terdiri atas bola basket dan lapangan. Berdayakan pemain dari situ.
Untuk peraturan Kedua. Mungkin ini aturan eksperimental yang layak dites. Pengalaman saya, banyak pemain yang selalu saja duduk di bench meski sudah mendedikasikan waktu dan tenaga buat latihan. Pinginnya ikut bertanding, tapi selalu kecewa.
Duduk di bench itu gak dapat pengalaman yang sama dengan bermain. Meskipun pelatih bisa bilang “meskipun cadangan, kamu bisa belajar banyak,” tapi gak bisa mengalami yang namanya belajar dari pengalaman. Ya dari bermain itu pemain bisa belajar dari pengalaman. Mengalami rasanya bermain di atmosfir DBL itu beda dengan duduk di bench di atmosfir DBL. Instruksi yang diberikan pelatih buat pemain yang turun ke lapangan itu lain dengan instruksi buat pemain yang duduk di bench. Pelajaran yang didapat berbeda.
Mungkin saya bisa paham niatnya DBL. Mereka pingin partisipasi maksimal dari peserta-pesertanya. Jadi mungkin partisipasinya yang dimaksud bukan cuma ikut dalam tim, tapi juga “bermain”. Supaya bisa sama-sama belajar dari pengalaman yang sama.
Ini cuma pendapat saya. Saya mungkin salah. Tapi mungkin bisa dipertimbangkan.
Setuju bro :)
Wiihhh peraturan prtama oke sh :)
Tp yg kedua rada aneh sprtinya, niatnya biar semua pmain merasakan atmosfir DBL ya, boleh la..tp klu buat 5cadangan hrus main brsama dlm 1quarter itu,haha pelatihnya hrus persiapan ekstra ni dri skrg :D
Gk sabar nonton DBL 2013, ngeliat sekolah2 dengan student athletenya!! Wohooo
Maju terus basket Indonesia!!
Semoga dengan adanya peraturan ini sekolah2 yang tdnya belum brni menunjukkan diri menjadi lebih percaya diri dengan atlit2nya ;)
Salam Olahraga!!! :D
Pake kuota pemain profesionalnya min, biar ada yg bimbing, ada yang berpengalaman di lapangan, msalnya kuotanya 2 atao berapa gt min, yang selanjutnya saya setuju min
Saya setuju sama peraturan ini.
peraturan 1: dengan aturan ini sekolah ga bisa merekrut pemain pro, krn ada sekolah yg mengejar prestasi di DBL dgn menggunakan berbagai cara, sperti misalnya merekrut pemain2 pro
peraturan 2: dgn aturan ini, pelatih lebih teruji untuk meramu strategi. Memberikan pemain cadangan kesempatan utk bersinar, sebab pemain cadangan yang biasanya dipandang sebelah mata, jika dimainkan bisa menjadi senjata rahasia, misalnya seperti Jeremy Lin. Ga perlu kuatir pemain akan jadi malas latian gara2 aturan ini, sebaliknya pemain akan berusaha lebih keras lagi agar tidak tampil malu2in
Untuk aturan no. 2 tergantung masing2 pemain dalam tim juga, Kalau pemain tersebut seorang yang benar2 memiliki jiwa atlet, dia pasti akan berusaha untuk membuktikan bahwa dia bisa memberikan sesuatu bagi timnya di lapangan. Sebaliknya, kalau yang tidak memiliki jiwa atlet akan malas latihan karena berpikir buat apa susah2 latihan toh ntar pasti main.
Tiap terobosan pasti ada pro & kontra, menurut saya sebaiknya dijalani aja dulu baru ntar dievaluasi hasilnya :)
Setuju(+) & ga setuju(-) buat 2 rule baru. Karena:
Rule1:
(+) pemain biasa pasti seneng kalo di DBL ga akan ketemu pemain terkenal yg bahkan mungkin udah masuk timnas. Dan pemain profesional levelnya ‘mungkin’ udah terlalu tinggi buat DBL (?)
(-) “maaaannn.. Ini sekolah guaaa.. Kenapa gw ga boleh maeeenn??!!” Mungkin pikiran anak pro gitu :)) atau kalo misalnya pemain itu bisa masuk ke sekolah X gara” basketnya, dan pelajaran bikin ketawa, terus beasiswanya dicabut gitu? Merampas hak hidup orang tuh
Rule2:
(+) oke karena tiap taun pasti selalu ada seengganya 1 orang yg jd camat. Cadangan Mati :)). Terus jg pasti akan ada perang strategi dr coach buat nempatin pemain”nya di quarter yg tepat.
(-) contoh kalo di NBA pake rules ini. Aneh aja kalo james tanpa wade maen di Q1, wade tanpa james maen di Q2. Ya emang ga pasti gini sih. Tp akan ada kemungkinan mereka cerai buat 12 menit.hahaha
Sebagai insan basket Indonesia mudah-mudahan pendapat saya yang sederhana ini bisa dipertimbangkan untuk kemajuan basket Indonesia melalui program-pogram DBL.
Saya sangat tidak setuju dengan rule baru no 1 tersebut di atas , bukan karena jiwa, spirit serta tujuan dari rule tersebut untuk memberikan kesempatan yang sama kepada setiap sekolah untuk menjadi juara dan berprestasi tetapi terhadap salahnya konsep tentang pemain professional dan pemain non professional atau amatir. dan tentang konsep student-athlete yang diusung oleh DBL itu sendiri.
ijinikan saya memberikan beberapa fakta yang saya dapatkan melalui internet,
1. sesuai dengan United States of Amateur Sports Act bahwa pemain professional adalah pemain yang dibayar dengan “Uang” dan digaji untuk bermain basket
2. student-athlete-student athlete di amerika yang bermain di ncaa divisi I maupun divisi II dengan jumlah total 900.000 jumlah total student-athletes dari semua cabang per tahun kompetisi itu 80 persennya menerima beasiswa olahraga student-athlete dan semuanya dinyatakan sebagai pemain “AMATIR”
3. seorang pemain sudah kehilangan status amatirnya ketika sudah menerima gaji dari suatu organisasi (dalam hal ini klub basket) bukan oleh organisasi non profit yaitu suatu yayasan sekolah. (dasar hukum NCAA, Chapter amateur status)
pendapat saya: seorang pemain tidak dapat dianggap professional hanya karena jika diberikan beasiswa oleh suatu sekolah namun jika pemain tersebut sudah digaji perbulan dan diikat kontrak oleh suatu Klub NBL (liga professional Basket di Indonesia) baru bisa dikatakan professional.
sekian comment dari saya,
jayalah bola basket Indonesia
Nah yg ini mantap
Nice share bro
”Tentu nanti akan ada dampak atau risiko, namun semua telah kami pertimbangkan. Kami percaya, semua keputusan ini dibuat untuk kebaikan jangka panjang semua pihak yang terlibat,” -Azrul Ananda
We’ll see :))
Menurut sy,tgs pelatih adalah membuat pemain yg tidak bs menjadi bs.dr bs lanjut k tingkat yg lebih tinggi lg.maka dr itu bwt ap da penataran n info2 bskt d internet.tujuany adalah untuk membuat kt maju dlm hal melatih.krn kasian dong pemain cpk2 lat tp minute play pun g d ksi sedikit pun oleh pelatihny yg ada bsk itu atlet g dtg lat lg.krn tdk pernah d mainkan.jd pelatih hrs extra kerja keras dng peraturan yg k dua ini.pelatih pun d tuntut cerdik untuk meramu d quarter 1 n 2.
Klo peraturan yg pertama sy g stuju atlet yg usia sma sdh d byr yg ada itu pemain ntarny bkn cri prestasi mlh lihat nominalny.jd prestasi d perbanyak otomatis berkat akan dtg dng sendiriny ko.
Maju terus bskt indonesia
Jika dibaca n dipahami, saya kira 2 aturan baru DBL ini bertujuan bagus. Memacu pemain untuk meningkatkan performanya baik secara skill individu, teamwork dan juga secara akademis pemain itu sendiri. Memang setiap aturan baru pasti ada pro dan kontranya. Namun saya pribadi merasa peraturan pertama itu agak kurang pas. Bolehlah pemain yg bagus dan bisa bawa nama sekolah mendapatkan sedikit apresiasi lebih dari pihak sekolah. Untuk aturan kedua, saya setuju untuk memainkan semua pemain, namun tidak perlu melakukan pemisahan pemain untuk quarter 1 dan 2. Jelas ada perbedaan antara pemain inti dan cadangan, namun apakah ga sebaiknya pemain cadangan dimainkan dengan mengatur minute playnya saja. Tidak perlu sampai melarang pemain inti untuk tidak bermain di quarter 2. Pasti nanti dalam pelaksanaan di lapangan selalu ada team yg akan sangat dirugikan oleh peraturan ini. Semoga DBL semakin baik kedepannya dan menelurkan bibit pemain baru yang akan mengharumkan nama Bangsa di kancah Internasional. Maju terus basket Indonesia…!!!
inilah yang membedakan basket indonesia dan luar negeri (amerika)
basket luar negeri : mereka lebih mengerti nilai dari kompetisi “dimana yang kuat yang bertahan”
basket dalam negeri : bukan menggunakan alasan “memberi kesempatan” karena takut bersaing
kasian calon atlit masa depan yang berlatar belakang orang kurang mampu (uda bahagia dapet beasiswa lewat jalur basket) akhirnya dicekal juga. semoga ada kompetisi yang lebih bagus lagi yang juga melihat dari semua sisi
by : orang yang cinta dan ingin olah raga diindonesia maju dan berkembang
“you can stop my step ,but you can’t kill my dream” GBu all
peraturan pertama agak enggak setuju. apa maksudnya “dapat uang saku”? brarti pemain setelah main gk boleh dapet makan dong habis main? trus pemain gk bisa dapet transportasi dong? klo yg dari Sidoarjo dan bermain di Surabaya harus brangkat dengan uang sendiri? harusnya definisi “pemain professional” gk segitunya lah. cukup pemain yang sudah benar” di kontrak sebuah club baru bisa di definisikan pemain professional
kalo peraturan kedua ya agak kurang setuju juga, memberi minute play pada pemain cadangan sangat amat bagus tuh, brrti gk bakal ada cadangan mati di sebuah tim. tapi peraturan quarter 2 harus memasukkan cadangan gk bagus juga. Harusnya kyk NBA mereka memberi minute play ke semua pemain sampai yg mainnya terburuk sekalipun, minimal 2 minutes lah. yah ini pendapat saya, klo gk di denger ya gk papa. toh pelatih punya strategi pastinya, mungkin beberapa pemain bagus disisain buat quarter 2, kyk harden pas di OKC dulu, O.J. Mayo pas di grizzlies dulu. mereka ini para 6th man yang punya kualitas sebagai starter sebenernya :)
Maaf saya ga nurut sama penulis. 5 menit rasanya tidak cukup bagi saya untuk mencerna 2 peraturan baru ini kata per kata, kalimat per kalimat.
Entah saya lemot atau saya telat mikirnya (jangan protes! :p).
Tapi bagi saya, 2 peraturan di atas itu sangat MENGGELITIK, sekaligus BRILIAN!!!
Untuk peraturan yang pertama ini menurut saya, sepintas, korbannya adalah si pelajar.
Mereka bercucuran keringat mengasah keterampilan di bidang basket, wajar memang jika dia mendapat beasiswa di bidang olahraga. Terlebih lagi jika ada pelajar sekaligus bibit pebasket handal yang berasal dari keluarga tidak mampu. Beasiswa semacam ini tentu sangat membantu.
Pada kasus ini yang “cerdik” adalah pihak sekolah. Pelajar tidak tau sistem, mereka hanya tau apa itu beasiswa. Para pengurus “cerdik” lah yang pintar bermain dengan sistem tersebut. Mencari celah di antara sistem peraturan yang ada.
Bagi sekolah “cerdik” berkocek tebal yang hanya mengejar prestasi semata, beasiswa tak ayal sudah menjadi nilai transfer.
Kasarnya sih mungkin “Wow, lo jago, sekolah di sini yuk, ntar dikasih duit!”.
Seolah tak peduli si pelajar tersebut JIKA ternyata (maaf) bodoh di bidang akademik.
Di lapangan basket namanya harum, di bangku sekolah dia BAU!
Sekolah “cerdik” tidak akan peduli itu.
Mereka hanya peduli prestasi!
Hey sekolah “cerdik”, prestasi itu tidak ada yang instant! Jika curang, mungkin anda bisa lolos proses penyelidikan “beasiswa abal-abal”, tapi sejago-jagonya tupai juga pasti pernah keseleo kan? Jadi jika sampai ketauan, saya yakin DBL punya peraturan tegas yang sangat merugikan pihak sekolah tupai itu :p
Sebenernya beasiswa olahraga masih bisa diterapkan sih. Semua pasti udah pernah nonton film “COACH CARTER” kan? Diceritakan yang boleh masuk tim basket selain dari segi skillnya jago, juga harus berotak encer dengan syarat mutlak memiliki nilai rapor di atas standar minimal yang ditentukan sang pelatih.
DBL sah saja jika ingin mengadaptasi hal ini. Dengan menerapkan standar minimal nilai raport si pelajar yang berlaga. Beasiswa diperbolehkan JIKA si pelajar sudah masuk tim. Jadi, sejago-jagonya dia, kalo ga pinter yaaa ga bakal bisa masuk tim. Ga masuk tim berarti yaaa ga dapet beasiswa.
Tapi ya hal ini juga masih memiliki celah. Sekolah “cerdik” pasti mampu bermain-main dengan nilai raport. Panjang lagi deh ceritanya ntar. Huft.
Lalu kalo begitu, hal apa yang bisa dilakukan untuk mencegah supaya pelajar tidak jadi korban?
Yuk kita baca paragraf tentang peraturan pertama, di bagian akhirnya ada kalimat : “….”Tentu nanti akan ada dampak atau risiko, namun semua telah kami pertimbangkan. Kami percaya, semua keputusan ini dibuat untuk kebaikan jangka panjang semua pihak yang terlibat,” tambahnya. ”
…
” … Kebaikan jangka panjang semua pihak yang terlibat … “,
…
KEBAIKAN JANGKA PANJANG SEMUA PIHAK YANG TERLIBAT!!!
Pelajar adalah salah satu pihak yang terlibat, kan?
Jadi menurut gw (lagi), justru inilah langkah supaya pelajar tidak menjadi korban.
Korban gimana maksudnya?
Nih yaaa, pendidikan itu penting. Makanya kata Student berada di depan Athlete. Karena ya itu tadi, PENTING :p
Gini deh, saya pengen cerita dulu sedikit tentang bapaknya temen saya dan sahabatnya, M SARENGAT.
Ebuset, ga tau siapa itu M. Sarengat? Ya ampuuun, itu lhooo legenda Indonesia di lintasan atletik. (Googling gih di Yahoo biar tau) :p
Jadi gini, sewaktu Sarengat meraih medali, beliau mendapatkan bonus sejumlah uang.
Beliau curhat sama bapaknya temen saya itu kurang lebih begini intinya: “Karir olahraga saya suatu saat berhenti, Sekarang saya punya uang, kira-kira apa yang bisa saya lakukan dengan uang ini untuk bekal hari tua saya nanti? Bisnis? Bisnis apa ya kira-kira?”.
Lalu bapaknya temen saya itu berkata, ” Lanjutkan pendidikan. ”
Sarengat pun melanjutkan kuliah hingga akhirnya meraih gelar dokter dan berkarir sebagai Dokter Angkatan Darat dengan pangkat terakhir Kolonel! Beliau sukses dengan hari tuanya, terlepas dari kabar terakhir yang saya dengar bahwa November kemarin beliau yg sudah berusia 70-an dirawat di RS Pondok Indah karena tekanan darah dan pneumonia -CMIIW- akibat dari stroke sejak 2-3tahun yg lalu. (Mohon doanya untuk kesembuhan beliau. Amiiin.)
Lain cerita dengan seorang petinju Meksiko yang tidak mampu bekerja setelah pensiun karena tidak mempunyai latar pendidikan dan keahlian, sampai-sampai menjual sabuk juaranya kepada kolektor hanya untuk biaya hidup 1 bulan. Atau cerita tentang atlit senam China yang memutuskan untuk meninggalkan bangku sekolah dan fokus di olahraga sampai cedera lutut menimpanya dan mengharuskannnya pensiun. Lagi-lagi, karena berpendidikan setingkat kelas 2 SMP, dia hanya mampu bekerja serabutan dan tinggal di emper toko.
Pasti dapet kan inti dari cerita tadi?
Itulah pentingnya pendidikan.Tidak selamanya atlit mampu berlaga. Tidak semua atlit mampu berbisnis.
Uang banyak, nekad berbisnis, 3 bulan bangkrut, uang habis, ga punya keahlian dan pendidikan, hidup susah.
Tapi jika berpendidikan, walaupun kurang sukses di bidang olahraganya ataupun cedera, setidaknya dia bisa bekerja di masa pensiun dengan berbekal otaknya.
Jadi balik lagi ke masalah korban barusan, apakah di sini hanya gara-gara dihapusnya beasiswa, DBL menjadikan pelajar sebagai korban?
TIDAK!
Untuk jangka panjang, menurut saya inilah upaya untuk menyelamatkan pelajar agar tidak bodoh dan survive di kemudian hari.
Untuk jangka pendeknya mungkin yaaaaa kalo juara…hadiahnya pasti ga sedikit laaah. Dibanding beasiswa, hadiah DBL mungkin jauh lebih besar nilainya. Ga mungkin juga juara satu hadiahnya cuman seperangkat alat tulis kaaaan? :p
Jadi poin pertama peraturan tadi sangat wajar. DBL ga minta banyak kooo, DBL hanya ingin kompetisi yang fair dengan memegang prinsip STUDENT ATHLETE, dan terjauh dari praktek kecurangan dari sekolah-sekolah “cerdik” yang rela mengorbankan anak didiknya yang seharusnya dididik agar pintar.
Pilih mana?
Beasiswa abal-abal tapi ada kemungkinan menjadi bodoh gara-gara ambisi sekolah bodoh?
Atau, berpendidikan dan memiliki kemungkinan berjaya di lapangan basket serta memiliki masa depan yang ngga butek?
Tau jawabannya dooong?
Ya, saya PRO dengan poin pertama dari peraturan baru DBL :)
P.S : Untuk poin kedua, nanti aja ah ya…kepanjangan. yang ini aja malu udah menuh-menuhin komen :p
Sebenarnya gue udh ngeliat tulisan ini beserta komen-komennya dari tadi malem, cuma baru sebatas dari hape dan udah males buka laptop… Pagi ini hasrat udah terbendung buat mulai komen, soooo… let’s get started :)
Sebelumnya dengan segala hormat, gue merasa kalau CUKUP banyak yang komen, tapi ga bener-bener mengerti arti dari peraturan baru tersebut. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut di bawah.
1. Gue cukup setuju sama peraturan ini. Menurut gue, peraturan ini berusaha mencegah biar sekolah-sekolah ga nyari gampang, nawarin beasiswa/sponsorship buat pemain berbakat biar ngebela dia, melainkan hanya anak sekolahnya sendiri yang boleh main. Dan lalu kalau mau main dengan beasiswa, boleh. Asalkan bukan beasiswa basket. Kedengerannya ga adil yah, kok anak harus pinter pelajaran doang? Gimana kalo bakatnya emang cuma basket? :)
Soalnya di Indonesia, jadi pemain pro pun BELUM tentu bisa menjamin hari tua kita… Gue sangat-sangat yakin pemerhati blog ini udah sangat familiar sama yang namanya NBA. Di sana, kalau mau di draft sama klub NBA, anak itu harus dari college. Dan di college pun nilainya ga boleh ngasal, asal lulus punya. Tujuannya apa? Kalau-kalau ga jadi pemain pro, masa depannya masih LEBIH terjamin, karena mereka udah punya BEKAL berupa pendidikan formal dan akademis.
Mungkin itu juga jadi pertimbangan para pengurus saat membuat aturan ini (I certainly hope so), dan aturan ini juga jangan ketat-ketat amat. Kalau memang ada atlit berbakat, cerdas, tapi ga mampu bayar uang sekolah? Aturan itu dibuat demi kenyamanan bersama, dan gue sangat-sangat yakin pihak DBL lebih bijaksana dari gue mengenai kapan aturan harus ditegaskan, kapan harus dilonggarkan :)
2. Sebelum gue mulai komen, di sini gue mau bantu menjelaskan sedikit, just in case ada yang ga ngeh. Jadi :
- Di sini main ga cuma 2 quarter, ada Q3 dan Q4.
- Pemain yang main di Q1 dan Q2 itu DIPILIH pelatih, bukan berarti yang di Q1 harus inti, Q2 harus cadangan, vice versa.
- Pembatasan cuma di Q1 dan Q2, Q3 dan Q4 udah BEBAS lagi…
So, what’s the problem? :D
Kalau memang pemain inti, memang minute play nya akan berkurang, tapi toh quarter 3 dan 4 akan main lebih banyak lagi. Istilah kasarnya, para cadangan itu dijamin untuk main selama 1 quarter. Nurunin level kompetisi? Saya kok ga setuju yah :)
Justru dengan adanya jaminan bermain, para cadangan itu tau kalau mereka akan tampil, main, di hadapan orang banyak pula. Saya pribadi kalau tau seperti itu akan latihan semampus-mampusnya, biar ga malu-maluin depan orang banyak Mental juga dilatih loh. Karena ngumpet di bench itu gampang, ga ada resiko nya. Tapi begitu turun ke lapangan, semua mata itu tertuju sama kita. Salah passing dikit, kena omel. Salah ambil posisi defence, kena omel. Tanpa adanya jaminan bermain buat para cadangan, mental mereka selamanya akan jadi mental benchwarmer yang akan duduk nyaman ngumpet di balik selimut. Kalau kita inget tujuan awal DBL itu untuk membina para pelajar yang berkualitas, saya rasa aturan ini cukup mendukung :)
Kayaknya sekian komentar dari saya, udah cukup panjang juga. Saya mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan.
Akhir kata, maju terus basket Indonesia! :D
Klo soal beasiswa, z krg setuju coz kita mengenal yg namanya beasiswa prestasi dan prestasi itu ga harus akademis tp jg bisa non – akademis seperti olahraga.
Z setuju tuh klo smua pemain harus turun main…that’s the real meaning “in the court”!!
Smoga basket Indonesia bisa makin maju, amin :)
semua pendapat adalah baik.. peraturan yg dibuat jg ckp bagus.. sisa para pelatih n pemain yg memberikan support n menunjukan semangat mengembangkan diri dan kreatifitas dlm pertandingan.. namun menurut pendapat saya yg perlu dirubah adalah :
1. sistem pertandingan. karena khusus di jawa saja yg memakai sistem group namun diluar jawa spt di kalimantan east series memakai sistem gugur yg mengakibatkan bnyk kompetiter hny memiliki 1x pertandingan. karena tu qta perlu tuk memajukan basket dlm negeri dgn cara lbh bnyk kompetisi bwt 1 tim.
2. selain tu jg seleksi umur menurut saya terlalu ditekan cth: yg ikut tanding hrs 1 juli 2012 padahal blm tentu dr sekolahan tsb memiliki umur dibwh 1 juli 2012. andaikan dari sekolahan tsb tidak ada yg bsa direkrut / tdk mau direkrut walau dgn alsan batasan umur berarti sama saja qta menggugurkan niat para pemain yg telah lama latihan ( dgn umur yg masih ckp ) krn tdk memiliki ckp 1 tim shg tdk dpt ikut dlm pertandingan. mungkin lbh baik batasan umur setidaknya pada bulan januari agr lbh bnyk kompetiter dr sekolahan tsb.
3. tambahan lagi mungkin perlu bnyk kompetiter dari sekolahan lain biar seru gtu.. bisnya klo di batasin kasihan bwt sekolahan yg dah niat daftar eh… ternyata dah g pny t4 lagi bwt ikut tanding..
4. terakhir deh hehehe… mungkin lbh baik ada sistem home away. yg mungkin lbh bnyk dana seh yg diperlukan tp kan lbh seru gtu hehehe…
maaf klo kata2 saya ada yg tidak setuju maupun menyakiti para pembaca namun ne semua demi memajukan basket ditanah air…
#lovethisgame
@iyan30
Saya adalah seorang pelatih di sebuah SMA Negeri di Sidoarjo, dan rutin juga mengikutkan tim binaan saya ke DBL terhitung sejak DBL pertama kali diadakan di Surabaya sejak 2005 (kalo ga salah)..
mengomentari 2 peraturan baru tersebut, saya setuju sekali dengan peraturan no.1… sudah dijelaskan gamblang diatas saya (Bukan Erick), dapet banget deh poin2nya… Efeknya untuk jangka panjang….mungkin akan berdampak sekali bagi tim2 sekolah papan atas yg biasanya langganan BIG FOUR, tapi justru menguntungkan tim2 mediokre seperti tim binaan saya dan sekolah2 lainnya yg pasti jumlahnya ratusan… hehehehehe, banyak pelatih pasti setuju sekali dengan pertauran nomer 1, memutus dominasi yg tidak sehat dan membuat liga lebih kompetitif.
untuk peraturan nomer 2, ini mungkin yg banyak mengundang pro dan kontra… sedikit aneh memang,terkesan frontal,dan mungkin hanya di DBL aja yg menerapkan peraturan spt ini..
tapi setelah dipikir2 secara matang, mungkin ada baiknya juga walaupun pasti peraturan ini bisa mengubah hasil pertandingan secara luas.. tapi disinilah letak kejeniusan pelatih bakal berperan,pelatih yg hebat dituntut memaksimalkan semua pemainnya…taktik dan strategi bakal jadi kunci untuk memenangkan pertandingan… disini pula peran seorang pelatih bisa dilihat, pelatih itu bagus karena pemain-pemainnya yg hebat atau racikan strateginya yg jempolan.. :D
Untuk yg menanyakan “bagaimana jika sebuah tim cuma diisi kurang dari 10 pemain?”
sebagai contoh misal 1 tim cuma berisikan 9 – 8 pemain,mungkin karena tidak datang karena sakit/halangan atau memang yg minat basket di sekolah tersebut cuman itu doank…
Kalau ga salah, di peraturan FIBA disebutkan bahwa batas minimal pertandingan bisa dilaksanakan adalah sekurang2nya 2 pemain dlm 1 tim… kalau cm 1 pemain aja dianggap diskualifikasi / WO… jadi intinya pertandingan bisa dilaksanakan walaupun 5 pemain vs 2 pemain…
demikianlah opini saya,mohon maaf jika ada yg salah dari opini ini… tetep maju basket INDONESIA
twitter : @bayu_melodic
Kalo menurut gw, gw agree sama mas azrul mengenai definisi pemain professional, semangatnya adalah student athlete bukan semata prestasi sekolah kaya yang bisa recruit pemain basket.
Kalo mengenai aturan yg kedua mengenai benchwarmer, im totally disagree.. menentukan yang bermain memang hak coach.. kalo mengenai minute play dan partisipasi gw dulu pernah merasakan dbl 2004 2005 justru itu yang jadi pemacu pemain untuk berlatih lebih keras biar ga jd benchwarmer doang.. kl mau tetap dipaksain aturan “partisipasi” ya solusinya ada minimum minute play per player..jadi coach ga terintervensi tapi musti puter otak!
That’s all my opinion..moga2 didengerin sama mas azrul.,hehe
saya kurang setuju dgn peraturan yang pertama. Di karenakan seandainya pemain tersebut adalah pemain yang di haruskan bermain basket agar dia bisa bersekolah. Ya masa orang ga mampu ga boleh bersekolah dan mengenyam pendidikan yang layak bagi masa depanya? Dan bkn hal yang aneh lagi jika seorang anak bermain dan serius di olahraga ini. DBL juga diadakan kan juga pasti Ada tujuan sosialnya bagi mereka. Bukan hanya sekedar sisi partisipasi aja yang diperhatikan. Dampak DBL selama ini amat positif bagi kaum yg tidak mampu mereka bisa mengenyam pendidikan secara layak dengan cara bermain basket mereka bisa dan mereka juga berusaha dengan standart nilai yang diberikan oleh pihak DBL. Terima kasih. :)
Pada peraturan nomer 1: Ada baiknya yang menjadi standar adalah nilai raport yang siswa peroleh. Jadi di sini perlu ditentukan batas minimal nilai yang harus dicapai siswa agar bisa mengikuti turnamen.Tentu kita tidak bisa menyetarakan kemampuan berfikir satu dengan yang lain sehingga menurut saya adanya batas nilai sudah cukup.
Pada peraturan nomer 2: Untuk pemain yang tidak pernah diganti dari Q1-Q4 peraturan ini cukup melegakan paling tidak ada jeda untuk memperpanjang nafas. :p Tapi perlu diperhatikan bagaimana pun ini sebuah kompetisi di mana setiap tim memiliki target untuk memenangkan pertandingan demi pertandingan. Ada tim yang memiliki pemain gemilang dari inti maupun cadangan, tentu peraturan ini tidak menjadi masalah. Tapi ada juga tim yang bertumpu pada beberapa pemain saja. Ini pasti akan menjadi cobaan berat. Walau jelas maksud dari peraturan kedua adalah agar setiap individu bisa memperlihatkan kemampuan terbaiknya bukan hanya sekedar pelengkap tim saja.
Sepengetahuan dan pengalaman saya sebagai orang tua, siswa yang ikut masuk team olahraga sekolah baik itu sekolah menengah atau universitas (ini di New York, Amerika) si siswa harus punya dua kemampuan, pertama karena dia bagus dalam olahraga tersebut dan terpilih oleh coach sekolah itu dan kedua grade dalam mata pelajaran sekolahnya yang lain juga harus tinggi, biasanya sekolah menerapkan grade minimum yang harus dipunyai/ didapat oleh si siswa tersebut. Katakanlah si siswa hanya bisa bergabung dalam team sekolah kalau grade mata pelajaran yang lain tidak kurang dari angka 80, jadi kalau kurang dari angka minimum itu dia harus keluar dari team, atau kalau beda gradenya kecil/ tipis mungkin dia hanya harus mengikuti les tambahan dari mata pelajaran yang kurang itu dengan catatan dalam waktu test test sekolah berikutnya ada kemajuan, kalau tidak ada kemajuan terpaksa dia harus keluar team.
Dengan cara diatas kita sebagai orang tua juga menjadi tenang, aman dan punya keyakinan yakni selama anak kita itu masih terdaftar dalam team sekolahnya sebagai pemain kita tidak merasa khawatir dengan grade dari mata pelajaran yang lainnya. Ini adalah pengalaman yang saya alami sendiri dengan anak saya.
Mungkin cara diatas ini juga bisa diterapkan atau ditiru sekolah sekolah di Indonesia.
Setuju sama krisna
Cuma mau komentar untuk peraturan 2 aja nih…
Peraturan 2 itu mirip peraturan permainan Minii Basket yahh, dmana setiap pemain dilarang untuk bermain di 3 quarter berturut-turut. Thx
Mnrt saya 2 aturan itu sih msh terlalu dini utk saat ini.
Basket emang mulai populer, menanjak pesat.tp msh bkn olahraga no.1. Beasiswa sih mestinya gpp asal dibarengi dgn nilai akademik yg sesuai standart, klo prestasinya menurun beasiswanya bisa dicabut. Ingat, bkn anak basket saja yg mendpt beasiswa, dr cabor laennya sekolah2 jg menawarkan beasiswa. Klo ada anak yg memainkan 2 cabang olah raga, mgkn dia lebih focus utk mengejar prestasi di cabang yg menawarkan beasiswa tsbt.
Mengenai aturan ke 2, kualitas pemain level Sekolah sgt blm merata saat ini, sebagian besar kepilih utk melengkapi jumlah squad meski blm memenuhi harapan pelatih. Byk hal yg menyebabkan sulitnya meratakan kualitas pemain, fasilitas sekolah, jam latihan, padatnya kegiatan di sekolah dll. Dikawatirkan nanti Q2 itu bakal jd partai dagelan (meski tdk semua sekolah), partai yg awalnya ketat di Q1 bisa melebar jauh selisihnya, shg sgt susah utk dikejar di Qtr2 selanjutnya, belum lg klo ada pemain yg cidera atau kena foul out, makin pusing aja pelatih utk mengatur rotasi krn team q1 & q2 tdk boleh bergantian…
Aturan baru merupakan inovasi bagus mestinya tp msh terlalu dini utk saat ini… Perlu sosialisasi dulu !
“Sekolah yang akan berpartisipasi pada DBL 2013 tidak lagi diperkenankan menggunakan pemain yang menurut regulasi baru didefinisikan berstatus ’profesional’. Misalnya, seorang pemain dianggap berstatus profesional jika menerima segala bentuk pembayaran, baik berupa uang saku atau beasiswa basket, fasilitas tempat tinggal, transportasi dalam bentuk apapun yang berasal dari dari klub basket atau dari pihak lain,”
pihak lain .> pemerintah termasuk kan dalam definisi ini ya…( masuk dong harusnya)
kalau masuk berarti akan banyak sekolah yang tidak bisa mengikuti kompetisi ini .
WHY
tanya pada BOS
bos siapa?
bantuan operasional sekolah nih baca http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita-pendidikan/12/05/05/m3jog8-bos-sma-akan-diterapkan-mulai-tahun-2013
kalau bgtu gmna nasib dbl, siapa pesertanya ??
:)
Menurut saya, 2 peraturan diatas sudah cukup “Bijak”. peraturan pertama bisa membuat sekolah sekolah lain bisa menjadi”THE REAL CHAMPION”, ato bisa dibilang, dengan hasil jerih payah latihan dan bukan hasil dari uang dan kerja sama Sekolah tersebut
peraturan kedua, ini bisa membuat semua pemain mendapat PLAYTIME yang sama, otomatis tidak ada yang menjadi “CAMAT” (Cadangan Mati), dengan begini, Kompetisi ini bisa menjadi sangat kompetitif.
juga, mungkin pelatih sekolahnya ada yang belum tau, kalo salah satu pemain cadangannya mungkin ada yang lebih bagus dari pemain Inti
Who Knows ? :D
Nice article :D
kocak nih aturan… =D
Kenapa peraturan nomer 2 gak di terapin dari tahun 2010 ?
Tapi untuk kedepannya setuju lah buat 2 peraturan barunya :D
Peraturan 1 ini tidak adil
Karena dari segi ini DBL sudah bisa untuk mengatur uang SPP dari tiap sekolah untuk murid2 yang berprestasii
Karena dari segi ini saya rasa segi bisnis lah yang bermain bukan sportivitas olahraga lagi
Peraturan ke 2 saya setuju kalau cadangan juga harus bermain
Kemungkinan di tahun ini kita hanya disajikan oleh pemain-pemain yang baru bisa main atau cara mainnya sangat standart
Saya rasa tahun ini akan sangat membosankan
Karena siswa-siswi yang berprestasi dalm basket sudah tidak bisa ikut
Pertanyaan saya simple sejak kapan olahraga ikut urusan dalam SPP
Maksud saya
Sejak kapan pertandingan olahraga ikut urusan dalam SPP?
Kalau tidak ada unsur tertentu untuk menyingkirkan siswa-siswi berprestasi dalam bidang basket
Tolong dipikirkan baik-baik
Jangan menjadikan ajang yang bergengsi menjadi ajang KACANGAN(yang sudah tidak layak lagi untuk ditonton)
PIKIRKAN JUGA SPP ADA BIAYA DARI BOS
saya setuju dengan mas rowi
saya rasa atmosfer DBL tahun ini akan turun drastis
peraturan nomor 1 amat tidak adil mengingat banyak siswa yang diberi beasiswa karena prestasi di bidang basket
tentunya nilai akademis nya pun juga tidak hancur, melainkan mampu memenuhi standar yang telah ditetapkan sekolah
penonton pasti akan jauh berkurang
peraturan nomor 2 tak kalah konyol dengan yang pertama
apa kita harus memainkan 15 pemain??
tentu akan banyak tim yang dirugikan dengan adanya peraturan di atas
dalam opini saya, ada modus bisnis atau tidak ingin memenangkan suatu sekolah yang mungkin sarat prestasi di DBL
salam
Curang. Peraturan yang benar-benar OMONG KOSONG! Peraturan gila yang bahkan membuktikan bahwa DBL mungkin dicakup pihak ketiga. Salah satu sekolah bahkan mendapati 8 dari 16 pemain putera dan 7 dari 15 pemain puterinya tidak boleh main. Plus aturan pemain tiap quarter harus beda.
Apakah sekolah saya ini harus main 5 pemain di quarter 1 dan 3 pemain di quarter 2? GILA. Sepak bola sudah kacau, sekarang basket? Makin mundur aja nih negara.
sangat setuju bung
saya amat heran, dimana semangat fairplay dan sportifitas yang diusung?
apakah 2 vs 3 termasuk dalam fairplay?????
terus terang saya kecewa