Jeremy Lin: Linspirational Messages (2/4)

Oleh Irril Darmawan (@ngobrolNBA)

“Jeremy Lin: Linspirational Messages (1/4)” …Entah sampai kapan issue stereotype ini bisa berakhir, mungkin saja dengan fenomena Jeremy Lin ini, cara pandang orang Amerika terhadap orang Asia bisa sedikit berubah. Ketika saya menulis artikel ini, di depan mata saya ada 10 macam barang. 8 dari 10 barang itu adalah made in China. (No offense! But it’s true…hehehe).

Lulus dari Harvard, Jeremy Lin juga berhasil meraih GPA (IPK) 3.1, jadi bukan hanya skill basketnya saja yang bagus, tapi skill akademisnya juga tidak dia kesampingkan. Impian untuk bisa bermain di NBA tidak terbuka lebar bagi Jeremy Lin. Tidak ada tim NBA yang berminat kepadanya pada saat draft pick (pemilihan rookie). Pada akhirnya, setelah bermain cukup bagus di Summer League (ajang para rookie menunjukkan skill-nya dan disaksikan oleh perwakilan dari tim-tim NBA), Golden State Warriors menjadi tempat berlabuh Jeremy Lin. Golden State Warriors melihat potensi dalam diri Jeremy Lin.

Perjalanan panjang belum berakhir, di tahun pertamanya sebagai rookie bersama Golden State Warriors (2010), Jeremy Lin tidak mendapatkan kesempatan bermain yang cukup. Dia hanya dimainkan di menit-menit akhir, atau ketika salah satu tim sudah tertinggal terlalu jauh.  Jika kita ada di posisi Jeremy Lin, pasti sebagian dari kita akan cepat frustasi. Mungkin itu juga yang dirasakan Jeremy Lin pada saat itu, atau mungkin juga Jeremy Lin selalu memotivasi dirinya untuk bermain lebih baik dan yakin bahwa kesempatan “itu” akan datang.

Tidak ada yang mudah bagi Jeremy Lin di tahun pertamanya di NBA (2010). Jika kita membandingkan dengan orang Asia lainnya, Yao Ming, apa yang dijalani Jeremy Lin di tahun pertamanya sangat jauh dari apa yang dia harapkan, tidak seperti Yao Ming yang memang sudah popular bahkan sebelum dirinya bermain di NBA. Dinasti Yao Ming sudah dibesar-besarkan sejak hari pertama dia bermain di NBA, ini berbeda total dengan Jeremy Lin. Jeremy Lin memulai semuanya di NBA dari 0 (nol) (ini juga mengapa akhir-akhir ini kita sering mendengar kisah Jeremy Lin ini sebagai kisah “from zero to hero”).

Di tahun keduanya di NBA (musim 2011-2012), setelah berbagai proses yang panjang (NBA Lockout, bermain di China, “dibuang” Houston Rockets, dll), akhirnya Jeremy Lin berlabuh di New York. Saya selalu menganggap bahwa New York adalah kota yang “keras” untuk pemain basket. Fans Knicks adalah salah satu fans paling kritis yang ada sekarang ini. Tentunya saya yakin ini jadi beban tersendiri juga bagi Jeremy Lin, tapi toh pada akhirnya dia bisa mengambil hati semua fans New York Knicks. Saya selalu berpikir seperti ini; if you can win New York, you can rule the world. Kira-kira itulah yang terjadi kepada Jeremy Lin saat ini.

Saya banyak membahas tentang perjalanan Jeremy Lin (pindah tim, dibuang ke NBDL, dll) di akun twitter saya @ngobrolNBA, juga saya sering sekali membahas berbagai statistik yang diperoleh Jeremy Lin (38 pts vs Lakers, game winning treys vs Raptors, 13 Assists vs Kings, Turnovers yang bejibun, dll). Saya tidak akan membahas itu semua disini, karena saya yakin angka-angka itu semua hanya bagian kecil dari fenomena yang sesungguhnya.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari fenomena Jeremy Lin ini? Saya akan merangkum itu semua kedalam 7 poin di bawah ini:… ”Jeremy Lin: Linspirational Messages (3/4)”

written by

The author didn‘t add any Information to his profile yet.

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>