Ukur Performa Basket dengan Nike+ Basketball
Pada tahun 2006, Nike mengeluarkan Nike+ pertama kali. Sebuah perpaduan antara sepatu olah raga dan pengolahan data. Saat itu, Nike+ terbatas pada sepatu lari saja. Di dalam sepatu Nike+, terdapat sebuah chip berlogo Nike dan Apple Computer yang entah bagaimana cara kerjanya terhubung dengan sebuah gelang yang memiliki tampilan/display waktu, jarak yang sudah tertempuh, rata-rata kecepatan berlari, dan jumlah kalori yang terbakar selama aktivitas berlari.
Selain mengompilasi berbagai macam data dari aktivitas berlari tersebut, gelang Nike+ akan mengunggah data-data yang dikumpulkan ketika ia dihubungkan dengan komputer dan menyebarkannya melalui sosial media semacam twitter dan facebook, dan sosial media Nike Running sendiri. Dengan begitu, data-data aktivitas berlari seseorang bisa terbaca oleh teman-temannya yang lain yang terhubung satu sama lain melalui facebook, twitter, atau pun sosial media Nike Running. Beberapa waktu kemudian, aplikasi Nike+ juga bisa dioperasikan melalui iPhone dan iPod. Tetapi tidak bisa melalui perangkat telepon pintar yang lain. Ini karena Nike+ memang dikembangkan di laboratorium milik Apple. Hingga saat ini, Nike+ telah digunakan lebih dari 6 juta orang di seluruh dunia.
Nike+ Basketball
Kemarin, 22 Februari, Nike+ akhirnya mengeluarkan edisi basket. Tadinya, dengan naif terpikirkan bahwa sepatu ini akan mengukur performa seorang pemain berdasarkan statistik standar seperti poin, assist, rebound, turn over dan lain-lain. Tentu saja bukan. Nike+ Basketball merekam kinerja pemain yang mengenakannya dari setidaknya tiga sudut; kecepatan, tinggi lompatan, dan kerasnya usaha bermain. Dari sana, ia bisa mengukur seberapa maksimal usahanya ketika bermain. Dan dengan terintegrasinya Nike+ dengan beragam sosial media, ia dapat menjadi ajang kompetisi meningkatkan performa antara sesama pemain basket.
Sepatu basket pertama yang akan menggunakan teknologi Nike+ adalah Hyperdunk.
watch?v=N00p6rJBx6A&feature=relmfu
—
CLS Knights Semakin Membenamkan NSH GMC
Meskipun center andalan Agustinus Indrajaya tidak turun bermain, CLS Knights Good Day Surabaya tetap terlalu tangguh bagi tim yang menduduki klasemen paling bawah sementara, NSH GMC Riau. CLS Knights memaksa NSH GMC bekerja keras bahkan untuk mencapai skor terakhir mereka. Kedudukan akhir 91-37 bagi kemenangan CLS Knights memperparah posisi NSH GMC sebagai juru kunci.
Pemain debutan CLS Knights, Herman kembali mendapat kepercayaan bermain sebagai starter. Mandat dari Coach Risdianto Roeslan mendapat jawaban mantap dari Herman yang mencetak empat angka dengan akurasi 67 persen. Sementara pada kubu NSH GMC, Boy Damanik mencetak tiga angka dan mulai kebingungan mencari cara mengatasi lawannya.
Unggul 18-10 di akhir kuarter pertama tidak lantas memberi kesempatan bermain santai bagi CLS Knights. Sandy Febiyansyakh yang lebih banyak bermain pada kuarter kedua beraksi hebat. Total 12 poin dicetak Sandy di kuarter kedua. Tambahan 28 poin dari CLS Knights hanya mampu diimbangi dengan delapan poin oleh NSH GMC. Dalam tekanan yang sangat kuat, NSH GMC melakukan 23 kali turn over hingga akhir kuarter kedua.
Semua pemain CLS Knights akhirnya mencetak angka di akhir kuarter ketiga. Andalan NSH GMC, Max Yanto mau tidak mau akhirnya menjadi tumpuan timnya untuk meraih angka. Sayang, bahkan seorang Max Yanto pun kesulitan mengangkat timnya. NSH GMC semakin tertinggal 62-27.
CLS Knights mengendurkan pertahanan pada kuarter terakhir. Namun demikian, NSH GMC tetap kesulitan. Jumlah rata-rata field goals kedua tim yang sangat jauh berbeda menegaskan betapa CLS Knights berada jauh di atas NSH GMC. Sandy Febiyansyakh menjadi pencetak angka terbanyak bagi CLS Knights dengan 17 poin. Max Yanto hanya menyumbangkan delapan poin bagi NSH GMC.
—
Pelita Jaya Akhirnya Raih Kemenangan Pertama di Denpasar
Penampilan buruk Pelita Jaya Esia Jakarta pada dua laga pertama mereka akhirnya berakhir. Menghadapi tim papan bawah Comfort Mobile BSC Jakarta, Kelly Purwanto dan kawan-kawan memetik kemenangan pertama mereka di Seri Denpasar. Pelita Jaya menang 79-43.
Jika sampai terjadi, kekalahan ketiga beruntun di Denpasar akan sangat buruk bagi Pelita Jaya. Oleh karenanya, Pelita Jaya langsung bermain ngotot dari kuarter pertama meskipun lawan yang dihadapinya adalah BSC, penghuni klasemen ketiga terbawah. Erick Sebayang yang turun penuh di kuarter pertama langsung kencang dengan sembilan poin untuk membawa timnya unggul sementara 19-8 di akhir kuarter pertama.
BSC berusaha keluar dari tekanan cepat Pelita Jaya. Usaha Herman Kurniawan berhasil memperbaiki performa BSC di kuarter pertama. Tambahan enam poin dari Herman di kuarter kedua membawa penampilan BSC lebih baik daripada kuarter pertama. 14 poin BSC ternyata juga berimbang dengan raihan Pelita Jaya yang meskipun mulai lebih lamban, memiliki akurasi yang meningkat.
Keunggulan 41-22 di kuarter kedua semakin melebar di kuarter ketiga. Hingga dua menit tersisa, poin BSC belum berubah. Richardo Uneputty dan kawan-kawan kesulitan menembus padatnya pertahanan Pelita Jaya. Menurunnya persentase fieldgoals BSC memaksa tim in hanya mampu mencetak lima angka di kuarter ketiga. Pelita Jaya mantap dengan menambah 15 poin.
Performa BSC membaik di kuarter terakhir. Tetapi Pelita Jaya pun stabil mempertahankan keunggulan. Erick Sebayang menjadi pengumpul angka terbanyak bagi Pelita Jaya dengan 19 poin. Pada kubu BSC, Gabriel Sitaniapesy yang baru pulih dari cidera meraih 13 poin. Terbanyak di antara pemain BSC lainnya.
—
Pacific Tak Mampu Keluar dari Perangkap Dell Aspac
Pacific Caesar Surabaya belumlah menjadi lawan yang sepadan bagi Dell Aspac Jakarta. Skor telak kemenangan Aspac atas Pacific masih menunjukan timpangnya kekuatan kedua tim. Dell Aspac yang kembali mengandalkan para pemain mudanya menang telak 83-35.
Meskipun kalah pada akhirnya, Pacific memberikan kejutan yang luar biasa di kuarter pertama. Gege Nagata dan Dewa Gede Galih membombardir pertahanan Dell Aspac yang tidak terkoordinasi dengan baik. Pacific sempat unggul hingga delapan angka di kuarter pertama sebelum akhirnya Dell Aspac mengejar di akhir kuarter dan unggul tipis 26-22.
Tidak ingin mendapat kejutan yang lebih banyak lagi, Dell Aspac menggenjot performanya di kuarter kedua. Pertahanan Dell Aspac yang digalang oleh Isman Thoyib menjadi benteng yang sangat-sangat solid. Pacific hanya mampu mencetak tiga angka pada kuarter kedua. Sebaliknya, serangan Dell Aspac yang meruncing meninggalkan Pacific jauh pada kedudukan 58-25 di akhir kuarter kedua.
Serangan Dell Aspac menurun di kuarter ketiga. Namun demikian, Pacific pun tidak mampu memanfaatkan hal ini dengan baik. Dell Aspac hanya mampu menambah delapan angka sementara Pacific tetap rendah dengan tambahan enam angka.
Dengan total rata-rata akurasi yang sangat rendah, 23 persen, Pacific benar-benar terkunci dan menjadi bulan-bulanan Dell Aspac. Pringgo Regowo menjadi pemain terbaik dengan mencetak 17 angka. Disusul oleh Fandi Ramadhani dengan 15 poin. Pada kubu Pacific, Dewa Gede Galih meraih 11 poin, dan Gege Nagata hanya 10 poin.




wah satu post satu judul, dengan banyak cerita. mirip pilm2 seperti “berbagi suami”, “dilema” dll hehehe :D