Jeremy Lin, Pendekar Pendobrak Stereotipe
Pelan namun pasti, orang-orang akan mempertanyakan konsistensi Jeremy Lin. Akankah ia bertahan lama dengan performa gemilang. Akankah karirnya tetap meningkat terus dan tahan lama. Bilakah ia tetap dahsyat jika nanti Carmelo Anthony dan Amare Stoudemire kembali pulih dari cidera. Akankah ia kelak menjadi salah satu point guard terbaik di NBA, dan lain-lain, dan lain-lain, bahkan banyak pertanyaan lain yang bahkan cenderung sinis.
Sejauh ini, rasanya tak ada yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jeremy Lin sendiri ketika ditanya hanya menjawab, “I don’t know how would it end up. Hope for the best, prepare for the worst,” sangat bersahaja, mengingat ia baru saja mencetak 38 poin saat mengalahkan Los Angeles Lakers. Poin tertinggi oleh seorang pemain Knicks ketika menghadapi Lakers setelah Stephon Marbury melakukannya beberapa tahun yang cukup lampau.
Yup, lebih nikmat memang menikmati pesta euforia Linsanity ini dengan larut hanyut di dalamnya. Ketimbang mempertanyakan hal-hal yang merusak meriahnya pesta :D
Setelah apa yang dilakukan dalam empat laga terakhirnya bersama New York Knicks dan mengingat ia bukan siapa-siapa sebelum itu, Jeremy Lin kini menjadi buah bibir panas dan trending topics di twitter. Ia memang bermain luar biasa. Namun di luar fenomenanya dalam satu minggu terakhir, Jeremy Lin juga memberi efek lain selain euforia kebangkitan New York Knicks oleh pemain yang awalnya “bukan siapa-siapa” ini.
Jeremy Lin sedikit banyak mendobrak beberapa stereotipe yang sadar atau tidak, kerap kita amini bersama:
Orang asia gak jago basket (di NBA)
Ok, kesampingkan dulu si Yao Ming. Dia memang pencilan alias anomali. 15 tahun yang lalu, dosen gw, Profesor Primadi Tabrani, seorang guru besar di Institut Teknologi Bandung pernah mengatakan bahwa orang asia itu lebih jago pada olah raga yang bersifat intuitif seperti tenis meja dan bulu tangkis. Olah raga yang mengandalkan fisik seperti tenis lapangan dan juga bola basket adalah milik ras-ras dengan fisik lebih besar dan kuat seperti orang-orang eropa dan afrika.
Tak hanya Profesor Primadi yang sepertinya berpendapat demikian. Meski tidak secara langsung, Golden State Warriors dan Houston Rockets pun sepertinya beranggapan sama. Mereka secara halus menolak Jeremy Lin. New York Knicks pun sepertinya pesimis sebelum akhirnya memberi kesempatan Jeremy untuk bermain ketika Knicks bertandang ke Houston. Jeremy belum meledak, namun sumbu dinamitnya sudah tersulut. Ia mencetak 9 poin dan 6 assist dalam 20 menit waktu yang dipercayakan oleh Mike D’Antoni, pelatih kepala New York Knicks. Hari ini, Jeremy mulai melanjutkan ledakannya dengan 38 poin dan 7 assist saat mengalahkan Kobe Bryant dan kawan-kawan.
Ketika orang-orang Denmark mulai jago main tenis meja dan bulu tangkis, Jeremy Lin pun membuktikan bahwa orang Asia pun lambat laun akan mampu berbicara di dunia basket. Sekali lagi, Yao Ming itu pencilan.
“It’s a sport for white and black people,” kata Jeremy Lin suatu kali. “You don’t get respect for being an Asian American basketball player in the U.S.”
Dan Jeremy Lin pun kini tahu ia sudah menghancurkan hal yang ia juga anggap sebagai stereotipe :)
Kampus hebat, mahasiswanya harus kutu buku semua
Jeremy Lin ini alumni Harvard. Bagi yang belum tahu Universitas Harvard, silahkan google, kampus macam apa Harvard ini. Tidak banyak atlet hebat keluaran Harvard. Jeremy Lin adalah salah satunya (dalam kasus ini, Jeremy Lin adalah pencilannya). Apakah prestasi Jeremy Lin di Harvard cukup baik? Hmm, ia lulus dengan indeks prestasi kumulatif 3,1! Yup, Jeremy Lin lolos prasyarat menjadi calon pegawai negeri sipil di Indonesia yang mematok 2,75 saja.
Terlepas dari belum diliriknya olah raga sebagai mata pencarian utama oleh banyak mahasiswa non-fakultas olah raga di Indonesia, kasus Jeremy Lin adalah tendangan kungfu yang menyadarkan bahwa setidaknya, berprestasi akademis hebat di sebuah universitas bergengsi bukan halangan untuk jago main basket (olah raga). Anak ITB, UI, UGM, dan yang merasa kuliah di kampus elit Indonesia patut mencontoh Jeremy Lin :)




Nice Article! Semoga Jeremy Lin bisa memacu demam basket lebih jauh lagi di Asia dan terutama Indonesia.
BTW, usul dong ke Mainbasket untuk mengulas atau mungkin me-riset pemain2 berdarah Indonesia atau malah masih WNI yg bermain di luar negri terutama di USA. Jangan2 sebenarnya banyak, tapi belum berminat balik ke tanah air karena belum menark secara finansial.
Thx
Kalau basket lokal kayanya sudah ada deh yang mirip Jeremy Lin (malah duluan dia)
Kuliah di ITB (FSRD 90), IPK juga 3 koma
Juara Kobatama 94 & 97
Panasia #7