Wendha Seperti Wendha Lagi! (Hari 7 NBL Indonesia 2011-2012 Seri III Palembang)

Garuda setidaknya membutuhkan seorang pemain yang berani dan tangguh ketika melakukan penetrasi. Setidaknya seorang pemain dengan gaya seperti Febri Rachmad Utomo yang bermain untuk CLS Knights Surabaya. Tanpa itu, Garuda hanya mengandalkan post play para bigman dan tembakan menengah dan jauh dari para shooter.

Lawan Garuda sangat paham akan hal ini. Mematikan Hendrik dan atau Vinton di bawah ring serta menempel ketat Hendru dan Christ yang beroperasi di daerah luar cepat atau lambat akan mematikan Garuda. Tak perlu mengantisipasi penetrasi-penetrasi cepat berujung layup. Itu tak akan terjadi.

Tanpa diduga, point guard Garuda, Wendha Wijaya mengambil inisiatif untuk berani menusuk ke dalam pertahanan lawan. Kesulitan di dalam, Wendha mengoper bola keluar ke arah Christ atau Hendru yang sudah terlepas tanpa pengawalan. Pun Wendha beberapa kali berhasil menghasilkan poin dari penetrasi drivenya yang berani. Sisanya, Wendha dihajar foul sebanyak tujuh kali! Terbanyak dalam laga tersebut.

Itulah yang terjadi ketika Garuda akhirnya mampu membayar kekalahan seri pertama atas Pelita Jaya Jakarta. Keberanian Wendha melakukan penetrasi tak hanya berbuah manis bagi dirinya, tetapi juga membuka peluang bagi para pemain Garuda yang lain. Wendha mengemas 16 poin. Terbanyak pada kubu Garuda. Dan Garuda menang 59-54. Wendha bermain persis seperti ia kerap terlihat ketika masih berseragam Satria Muda.

Laga lain yang tak kalah seru adalah BSC melawan Bimasakti. Bimasakti yang tidak didampingi oleh Coach Edy Santoso terlihat kurang bergairah. Coach A Kiat yang menggantikan posisi Edy Santoso pun tidak banyak memainkan Untung Maryono dan Gipsona serta Made Indra. BSC pun akhirnya memiliki semangat yang luar biasa hebat dan tenang, Hal tersebut ditunjukan oleh forward mereka, Airlangga Sabara.

Berikut rangkuman laga kemarin dan telah tampil sebelumnya pada situs resmi NBL Indonesia

Laga Terakhir Stadium di Palembang Berakhir Manis

Stadium Jakarta akhirnya menutup laga kelima mereka di Palembang dengan kemenangan manis atas Satya Wacana Angsapura Salatiga. Satya Wacana sendiri yang baru meraih satu kemenangan masih belum berhasil menemukan celah untuk kemenangan selanjutnya. Stadium menang 84-55.

Satya Wacana memberikan perlawanan yang cukup baik pada kuarter pertama. Jumlah usaha tembakan yang lebih banyak yang dilakukan oleh Stadium memberikan hasil yang optimal. Kuarter pertama ditutup dengan skor sementara 28-21 untuk keunggulan Stadium. Padahal rata-rata field goals kedua tim sama-sama di atas 40 persen.

Valentino Wuwungan dan Yo Sua yang menjadi andalan Satya Wacana mendapat cukup banyak kesempatan untuk menambah angka. Namun ketatnya pertahanan Stadium membuat akurasi kedua pemain ini tidak begitu baik. Sebaliknya, andalan Stadium, Merio Ferdiyansyah, tetap agresif dan atraktif dengan total 15 poin di akhir kuarter kedua. Stadium mulai menjauh dengan skor 45-31.

Kerap melakukan turn over, menjadi salah satu faktor utama mundurnya raihan Satya Wacana di kuarter ketiga. Meskipun Yo Sua berhasil menambah empat poin dari performa kerasnya di kuarter ini, Satya wacana sendiri secara keseluruhan hanya menambah delapan poin. Sementara pada kubu Stadium, giliran Randolph Ariestedes fantastis dengan tambahan 10 poin.

Tertinggal 63-39 di akhir kuarter ketiga, Satya Wacana tidak menunjukan tanda-tanda akan memberikan perlawanan yang signifikan. Merio Ferdiyansyah kembali menjadi pengumpul angka terbanyak bagi timnya dengan 22 poin dan delapan rebound. 48 persen field goals Merio juga menunjukan ketajaman shooting guard ini. Pada kubu Satya wacana, Yo Sua menunjukan tren kinerja yang meningkat. Yo  Sua mencetak double-double dengan 13 poin dan 12 rebound.

Garuda Balas Kekalahan atas Pelita Jaya

Melalui sebuah laga yang cepat dan keras, Garuda Speedy Bandung akhirnya membalas kekalahan telak mereka di seri pertama atas Pelita Jaya Esia Jakarta. Pelita Jaya yang unggul tipis di kuarter pertama dan kedua harus tertinggal di kuarter ketiga dan akhirnya kalah tipis 59-54. Rekor pertemuan keduanya dalam dua laga terakhir, sama kuat satu sama.

Kuarter pertama yang berjalan keras dan cepat memberikan efek merugikan bagi kedua tim. Pelita Jaya kerap melakukan kesalahan sendiri yang mengakibatkan terjadinya tujuh kali turn over. Sementara itu, pada kubu Garuda, permainan cepat mengakibatkan keputusan menembak yang terburu-buru sehingga akurasi sangat rendah, hanya 22 persen. Pelita Jaya menguasai kuarter pertama dengan kedudukan 12-9. Shooter Pelita Jaya, Juliano Gandhi mencetak enam poin.

Sebuah benturan keras antara Vinton Nolland dan Kelly Purwanto di akhir kuarter pertama membuat Kelly terpaksa diistirahatkan oleh Pelita Jaya sepanjang kuarter kedua. Kondisi ini sedikit menyulitkan bagi Pelita Jaya. Hasilnya, Pelita Jaya masih belum berhasil menjauh dari Garuda. Garuda yang sempat unggul satu poin di detik-detik akhir kuarter kedua melakukan turn over yang dikonversi dengan sempurna oleh Dimas Aryo Dewanto melalui sebuah layup untuk kembali membawa Pelita Jaya unggul tipis di akhir kuarter kedua, 28-27.

Point guard Garuda, Wendha Wijaya bermain sangat agresif di kuarter ketiga. Wendha yang bertugas sebagai pengatur serangan mulai lebih sering melakukan penetrasi. Wendha mencetak delapan poin di kuarter ketiga. Empat di antaranya adalah hasil free throw yang sempurna. Garuda berbalik unggul di akhir kuarter ketiga 44-37.

Menguasai kuarter ketiga, Garuda tak lagi terkejar oleh Pelita Jaya. Usaha keras dari Andi Batam dan Ponsianus Indrawan hanya mampu menempel tipis di bawah poin Garuda. Rapatnya pertahanan Garuda menjadi kunci kemenangan kali ini. Wendha Wijaya menjadi pencetak poin terbanyak bagi Garuda dengan 16 poin.

Semangat BSC Pukul Bimasakti

Luar biasa semangat dan ketenangan yang ditampilkan oleh para pemain Comfort Mobile BSC Jakarta saat mengalahkan Bimasakti Nikko Steel Malang. Melalui satu kali over time, Bimasakti yang tidak didampingi pelatih kepala Edy Santoso harus menerima pukulan pahit dari BSC yang menang tipis 62-61.

Laga sepertinya akan mudah dimenangkan oleh Bimasakti ketika tim kebanggaan Kota Malang ini unggul 16-12 di akhir kuarter pertama. Yanuar Priasmoro yang selalu menjadi andalan Bimasakti mencetak enam poin. Skor yang sama juga dibukukan oleh forward BSC, Airlangga Sabara.

Unggul di kuarter pertama, Bimasakti mulai menerima perlawanan seimbang pada kuarter kedua. Menghadapi para pemain Bimasakti yang sangat agresif, para pemain BSC lebih sering melakukan lemparan jarak menengah dan jauh. Hasilnya, meskipun field goals rendah, BSC menahan imbang Bimasakti di kuarter kedua dengan raihan 10 sama.

BSC kembali meningkatkan intensitas serangan di kuarter ketiga. Field goals yang hanya 26 persen di kuarter kedua naik menjadi 32 persen. Duel antara Yanuar Priasmoro dan Airlangga Sabara kembali terjadi di kuarter ketiga setelah keduanya tidak mencetak poin sama sekali di kuarter kedua. Delapan angka dari Airlangga membawa BSC berbalik unggul 40-39 di akhir kuarter tiga.

Kejar mengejar angka terjadi di kuarter empat. Setelah menutup kuarter empat dengan skor 55 sama, laga seru berlanjut ke babak over time. Airlangga Sabara yang telah berada pada kondisi foul trouble terlihat sangat berhati-hati saat bertahan. Namun Airlangga tetap agresif saat menyerang.

Laga tersisa di bawah 10 detik ketika Bimasakti memiliki satu kesempatan terakhir untuk menyerang. Sebuah kejadian ironis terjadi. Barra Sugianto malah melakukan offensive foul pada sisa satu detik laga. Andy Prasetyo sukses mencetak satu dari dua free throw di detik terakhir dan membawa BSC menang dramatis.

Mencetak 27 poin dan 14 rebound, Airlangga Sabara layak menjadi pemain terbaik pada laga ini. Pada kubu Bimasakti, Yanuar mencetak angka terbanyak dengan 21 poin dan lima rebound.

written by

The author didn‘t add any Information to his profile yet.

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>