Indonesia vs Thailand; Andi Batam, Faisal, Wasit, dan Botol Melayang

Begitu bel tanda pertandingan usai, semua penonton bangun dari tempat duduk berteriak marah. Lainnya merasa sedih. Kekalahan 65-62 dari Thailand ini terasa menusuk. Dalam.

Mereka yang marah adalah yang mengerti bahwa tembakan tiga angka Amin Prihantono sesaat sebelum waktu habis seharusnya diganjar tiga poin. Pemain Thailand dengan jelas menghentikan laju bola Amin yang beberapa sentimeter lagi menuju ring. Goal tending. Tetapi entah mengapa wasit mengatakan bahwa itu bukanlah goal tending.

Beberapa yang lain mengatakan bahwa Amin ketika menembak juga terkena foul namun lagi-lagi wasit menganggap pemain Thailand tidak melakukan pelanggaran apa-apa.

Sementara mereka yang sedih adalah yang sulit menerima kenyataan bahwa tiket final yang sepertinya sudah di genggaman ketika kita unggul 15 angka di sekitar kuarter ketiga, harus melayang di detik-detik akhir. Sedih bukanlah kata yang tepat mewakili perasaan yang muncul. Ia lebih kepada menyesakan!

Perbedaan persepsi wasit

Thailand bermain baik. Mereka sabar dan tenang. Ketika tertinggal jauh mereka mampu mengejar pelan-pelan memanfaatkan kecerobohan permainan Indonesia. Tidak ada gempuran dahsyat yang membuat kita tersentak waspada. Thailand membalikan keadaan secara tenang. Pujian untuk mereka. Walau tidak terlalu istimewa.

Jika ada penampilan yang mengecewakan malam tadi, maka tak lain tak bukan ia adalah penampilan tiga wasit yang memimpin pertandingan; Jamal Al Turk, Atanu Banerjee, dan Viet Duc Le.

Tiga wasit yang berasal dari negara entah-berantah ini memimpin laga dengan level konsistensi yang berbeda-beda. Jamal Al Turk terlihat lebih keras, di mana ia hanya meniup peluit pada pelanggaran-pelanggaran keras, sementara Atanu Banerjee terlihat seperti seorang wasit yang lembek. Ia mudah sekali meniup peluit untuk hal-hal remeh (walau ini tentu saja bisa diperdebatkan). Sementara itu Viet Duc Le terlihat pasrah dan jarang meniup peluit. Ia juga terlihat sebagai wasit yang paling muda usia.

Ketidaksepahaman wasit dalam menentukan level (keras-lembut) pertandingan membuat beberapa keputusan terlihat janggal, tidak konsisten, dan kontroversial. Pelanggaran keras seperti saat Faisal terbanting karena bajunya ditarik pemain Thailand tidak mendapat peluit foul, demikian pula ketika Xaverius terjatuh karena permainan kasar Thailand.

Sementara itu, sedikit sentuhan terhadap pemain Thailand yang sedang menguasai bola seolah sebuah foul yang berbahaya. Foul-foul yang membuat Xaverius harus keluar lapangan adalah pelanggaran yang jika mengikuti level yang dianut oleh Jamal Al Turk, tentu terlalu lembut untuk dikatakan sebagai sebuah foul. Selain berperforma buruk, tiga wasit ini tidak kompak!

Thailand tak banyak melakukan protes terhadap wasit. Sebagai fan Indonesia tentu saja gw subyektif. Thailand banyak diuntungkan oleh wasit. Terutama penolakan wasit bahwa tembakan Amin yang dihentikan pemain Thailand bukanlah sebuah goal tending.

Permainan naik-turun Tim Indonesia

Terlepas dari kepemimpinan wasit yang kontroversial, permainan Tim Nasional Indonesia juga kerap naik-turun. Kita meluncur naik dengan cepat, meninggalkan Thailand dengan mantap, lalu perlahan-lahan tanpa sadar kendur dan tersusul.

Bagi semua pendukung Indonesia yang datang ke Britama Arena malam tadi, naik-turunnya permainan Indonesia tak lepas dari dua tokoh utama: Andi Batam dan Faisal J. Achmad.

Gw akan mencoba memandang ini seobyektif mungkin tanpa ingin melebihkan yang satu atas yang lainnya ataupun merendahkan satu pemain di bawah pemain lainnya.

Andi Batam mencetak 26 poin dan enam rebound. Tak ada yang menyangkal bahwa Andi Batam adalah bintang lapangan malam itu. Andi memasukan enam kali three point dari sembilan kali percobaan. Dua kali freethrow yang masuk semua dan penetrasi serta tembakan dari area perimeter yang mematikan.

Hal ini tentu saja tak lepas dari kecerdikan pemain lain yang mampu menemukan posisi bebas Andi Batam yang kerap tak terjaga karena para pemain Thailand sepertinya lebih terfokus untuk mematikan Amin Prihantono dan Xaverius Prawiro. Serta Ronaldo Sitepu dan Roni Gunawan.

Setiap tembakan Andi Batam adalah momentum Indonesia meninggalkan Thailand. 

Sayang, percikan momentum tersebut kerap padam setiap kali Faisal J Achmad masuk menggantikan Mario Wuysang atau pun Xaverius. Setiap kali Faisal menjadi pengatur serangan, para pemain lain terlihat bingung. Serangan Indonesia beberapa kali berujung turnover. Dan terkonversi menjadi poin-poin penting bagi Thailand.

Puncaknya adalah ketika kita unggul 10 poin dan dua kesalahan beruntun Faisal membuat Thailand menambah angka 5-0 dalam waktu kurang dari satu menit. Masuknya Faisal adalah momentum bangkitnya Thailand.

Sulit bagi gw untuk menyalahkan Faisal. Karena yang membingungkan adalah keputusan para pelatih untuk selalu memasukan Faisal di saat terlihat sangat jelas bahwa Faisal bermain tidak pada performa terbaiknya malam itu. Dan rasanya Faisal pun sadar akan hal tersebut karena ia sendiri pun terlihat selalu kebingungan setiap kali akan mengatur serangan.

Performa buruk Faisal dari kuarter pertama hingga akhir tertangkap jelas oleh penonton yang memadati Britama Arena. Puncaknya pada kuarter empat di mana setiap kali akan bermain, penonton bersorak mengejek ke arah Faisal, seolah berusaha mengatakan agar Faisal jangan dulu lagi dimainkan. Situasi yang rasanya tak pernah dialami atau terbayangkan oleh Faisal sebelumnya.

Tetapi tentu saja bukan salah Faisal, ia hanya menjalankan kepercayaan yang diberikan pelatih kepadanya. Sekali lagi, ia sedang tidak dalam performa terbaiknya malam tadi.

Pada detik-detik terakhir, Xaverius didakwa melakukan foul ke-lima. Mario Wuysang sudah tak sanggup bermain karena terlihat semakin kesakitan memegang pahanya. Ketika pelatih memanggil Faisal untuk kembali masuk lapangan, rasanya ribuan penonton yang memadati Britama Arena sadar bahwa ini adalah sebuah perjudian yang mengerikan. Mengapa bukan Dimas Aryo Dewanto yang dimainkan. Padahal Dimas bermain cukup baik dan prima bahkan sempat menyarangkan dua poin melalui eksekusi layup manis dari sebuah setplay yang apik. Jika ini benar perjudian, barangkali memasang Dimas memberi peluang lebih baik.

Bagaimanapun, keputusan untuk memberikan porsi waktu bermain yang cukup tinggi kepada Andi Batam sangat layak mendapat apresiasi karena terbukti super berguna. Dan ketika pendukung merasa bahwa memainkan Faisal adalah pilihan yang gak bagus, maka itu juga hak penonton untuk mengkritisi dan kecewa. Dua perasaan ekstrim tersebut merupakan bagian dari kecintaan pendukung kepada tim yang dibelanya. Botol-botol yang melayang ke arah lapangan memang tidak dewasa. Tapi perlu dicatat, ia bukanlah kekecewaan terhadap tim nasional, atau kebencian terhadap Thailand. Ia adalah kekesalan terhadap kepemimpinan wasit. Kerap terjadi dalam situasi chaos seperti kemarin bahkan di Amerika Serikat sekalipun, di mana adab menyaksikan gelaran olahraga sudah sangat santun. Jika ini adalah pesta olahraga negara-negara Amerika Latin, sangat mungkin sang wasit malah mendapatkan ancaman pembunuhan.

Persiapan tim nasional selama enam bulan jelas tidak sia-sia. Tim ini begitu tenang menhadapi kejutan pemain naturalisasi dari Myanmar, beringas mengganyang Malaysia, dan cerdas membalikan keadaan ketika melawan Singapura. Namun ketika melawan Thailand, dewi fortuna sepertinya bersiap diri untuk liburan akhir pekan. Lupa bahwa ia seharusnya bersama tim nasional malam itu.

written by

The author didn‘t add any Information to his profile yet.

41 Responses to "Indonesia vs Thailand; Andi Batam, Faisal, Wasit, dan Botol Melayang"

  1. Dewanto says:

    Kecewa ama penampilan timnas terutama faisal…… ama kepimpinan wasit.. kuarter 4 puncaknya

    Reply
  2. prabhaswararget says:

    sedih….
    terpurukkk….

    udah mana ga bisa nonton, berharap nonton pas final, jersey putih udah siap tapi apa daya kalah sama thailand….
    tapi apa pun hasilnya, 12 orang yang turun di lapangan itu udah buat bangga indonesia, udah buat kita percaya kalo mereka bisa dapet emas… ga lupa official, jajaran pelatih + manajemen….
    terima kasih banyak….

    sekarang saatnya regenerasi, saatnya angkatannya ius, dimas, dodo yang harus ambil tongkat estafet…
    2 tahun lagi bukan waktu yang sebentar (dan juga ga lama)…. tapi 2 tahun lagi harusnya emas itu di tangan, 2 tahun lagi ga perlu takut ama phinoy…

    sekali lagi, terima kasih buat 12++ orang yang telah membuat kami bangga….
    *bungkuk salut

    Reply
  3. fey says:

    wasit gilakkk !!!!!!

    Reply
  4. Caesar says:

    Gw jg sangat kecewa atas gagalnya timnas cow kita ke final. Tp menurut gw seandainya tim pelatih memilih buat masukin Dimas di saat2 terakhir dmn Wuysang udah cidera and Xaferius fouled out, itu jg bakal jg perjudian yg sama risky-nya. Masalahnya si Dimas sendiri meskipun bermain bagus, posisi asli dia shooting guard dmn yg dibutuhin waktu itu kan point guard, yg bisa make play. Dan setau gw Dimas bukan jg combo guard. Jd belum tentu jg dgn masukin dia tanpa point guard murni di lapangan timnas bisa mengatur seragan lbh baik. Ya ini pendapat gw aja. Gw lbh cenderung kecewa sama mentality timnas waktu udah lead 15pts. Anyway udah terjadi. Kita tetap DUKUNG INDONESIA!! Untuk perebutan perunggu ya Bro.

    Reply
  5. nengbiker says:

    kerasa mirisnya pas nonton >.<
    sayang Indonesia ga bisa maju tahun ini. next time semoga lebih baik dan dewi fortuna ada di samping Indonesia

    Reply
  6. makotosing says:

    We were expecting to face Indonesia in the finals…
    We already prepared against Indonesian team for the finals..
    Alas… The basketball gods have other plans…
    The Thais got no answer against Mario Wuysang… Unfortunately he spent more time in the bench…

    Our women basketball team also lost to Thailand..
    There was a controversial 3 pt shot credited to Thailand.. Our side is arguing that it was just a 2 point shot… Unfortunately, the shot cannot be contested by using the benefit of slow motion for review, the call stayed and the Thais managed to extend the match to an extra five-minute stretch.
    Well we lost 73 75 to Thailand.. win or loss, 3pt or 2pt.. it was a nice game..:)

    Reply
  7. chandra says:

    jarang melihat Idan menyalahkan wasit tapi kalu begini kelihatan parah amat berarti waSITnya. kalau saya sih gak nonton live jadi gak bisa banyak protes atau komen. salut saja dengan thailand yg mampu menutup batam di q4 dan memaksa kita TO berkali4 di Q4 sayang memang tapi kalah ya sudah kalah.
    sampai jumpa 2 tahun lagi semoga yg dikatakan bpk AA bahwa ini terakhir kalinya timnas berisi pemain senior2 bisa kita lihat waktunya indonesia lebih powerfull dan sukses di basket

    Reply
  8. andoms says:

    Sedih… Nyesek… Dan Penuh rasa kecewa…

    Cuma itu yang bisa gw rasakan pada saat waktu berhenti di 0:00 quarter 4. Gw nonton semua pertandingan Timnas dr hari Pertama, gw sampe niat cuti seminggu untuk mendukung timnas basket. Tekad gw dari Sea Games dimulai gw hanya akan memberi dukungan penuh (nonton langsung) utk Timnas Basket. Padahal td malam gw sempet kecewa krn tiket SOLD OUT, beruntung ketemu dgn orang yg tiketnya lebih dan gw bisa masuk di detik2 terakhir.

    Kekecewaan terbesar seperti dikemukakan diatas jelas pada kepemimpinan wasit. Jelas terlihat bagaimana keputusan wasit beberapa kali merugikan TimNas kita. Puncak kekecewaan pada wasit jelas pelemparan botol2 minum ke lapangan oleh beberapa oknum penonton, dan bahkan sebelumnya gw lihat Mario Lawalata datang ke pinggir lapangan meneriaki wasit dgn keputusan2 kontroversialnya.

    Kekecewaan lainnya adalah jelas penampilan Faisal. Dari semua pertandingan yg dijalani gw sangat melihat kualitas permainan Faisal sangat jauh dari sebagaimana biasanya di di SM. Mungkin kang idan ingat bagaimana temen gw sangat kecewa dgn permainan Faisal pada saat melawan Malaysia(waktu itu gw duduk didepan kang idan), dengan tidak sungkan2 temen gw mengejek habis penampilan Faisal.

    Harapan gw untuk team Nasional supaya terus berjuang untuk meraih perunggu, dan gw tetap ada di baris terdepan untuk mendukung.

    Tetap Semangat Tim Merah Putih.

    Reply
  9. Mario says:

    Y itulah permainan dimana segala sesuatu bs terjadi,dr pemain yg lg bau,wasit yg plinplan dll.tp ad satu kesimpulan dr saya klo melihat pertandingan seagames in yaitu PENTINGNYA KOMPETISI yg bagus mungkin bs d usulkan kepada bung azrul untuk nbl taun yg ketiga bole memakai pemain asing tp cukup 1 aj krn klo terlalu bnyk mlh bs mematikan potensi pemain lokal krn mreka jd jrg bermain nantinya & klo bs d nbl hilangkan peraturan seorang pemain hny boleh tmpl d kompetisi nbl sj g bole yg lain.krn klo bermain d abl pemain kita bs bertemu dgn pemain2 filipina yg sngt bny d pakai oleh team abl shg bs menambh pengalaman sbg contoh faisal yg bgt superior dgn SM d kompetisi domestik tp msh sngt kurang visi bermainny sebagai seorang PG klo bermain d luar (dluar permainan die smalam yg bnr2 jelek) timnas skrng perlu seorang dirigen d lapangan yg kemampuanny mengatur permainan spt wuysang tp yg lebih cepat,y plg tdk spt wuysang wkt muda :-).klo it tdk d temukan maka bahaya bg indonesia untuk masa depan.dimana beberapa pemain malay,thai n singa taun dpn akan bnyk yg bermain d kompetisi abl sdg indo cm d wkili oleh 3 org yg lainny cm bermain d dlm negri yg walau udah meningkat tp saat ini msh terlalu timpang kemampuanny (plg cm ad 5 team yg bersaing).demikian sdkt pendapat dr saya klo ad salah2 kata mhn maaf. BRAVO BASKET INDONESIA

    Reply
  10. Andre says:

    Salut jg sabar sampe paginya baru nulis :). Biar pagi2 lebi jernih :D

    Gw mayoritas setuju sama tulisan di atas, terutama soal rotasi pemain dari pelatih. Tapi kok sambil gw baca malah kepikir kemungkinan perspektif pelatih:

    1. Gw ntn pas hampir halftime. Di halftime beda 1 poin dan pembukaan 3rd quarter makin jauh. Sempet terbersit pikiran: ok, Mario duduk. Wajar karena keunggulan udah jauh (sampe 15 pts) dan kita masih jaga kondisinya buat 4th Q. Jadi bagian dari jaga kondisi Mario untuk Qtr terakhir. Tapi ternyata begitu dia duduk, rasanya udah kayak ntn tim yang beda (2x fast-break 2-on-1 gagal?) . Itu udah dibahas juga di artikel di atas. Setuju juga kalau bukan murni salah pemain. Tanggung jawab pelatih buat milih 5 pemain terbaik dari 12 yang dipunya.

    2. Soal respon penonton gw rasa nggak ada alasan buat lemparin apapun ke lapangan. Itu cuma perilaku tidak dewasa. Bagaimanapun keputusan di lapangan sudah terjadi. Dan menurut gw agak kurang perlu membandingkan dgn Amrik atau sampai kemungkinan ancaman pembunuhan.

    3. Nah soal wasit. Basket ini agak2 lucu emang. Kalau kasus ini emang rasanya agak kurang konsisten: call2 buat pemain Thailand ada yang kayaknya halus banget.

    Kalau mau fast forward ke menit-menit akhir, di kondisi begitu gw yakin wasit-wasit ini (yang sepanjang game kualitasnya boleh dibilang kurang bagus) itu juga sangat tegang. Dari game2 basket yang pernah gw tonton, kadang ada 2 tipe wasit di kondisi ketat:

    Pertama, dia milih pemain yang decide the outcome. Di kondisi ketat, dia memilih biar pemain yang memenangkan (mengalahkan?) diri mereka sendiri. Atau dengan kata lain, play on. Kecuali ada betul-betul contact yang nggak diragukan lagi. Soal tembakan 3 yang follow throughnya ada contact, gw rasa itu bukti kurang kuat. Contactnya juga agak tanggung. Goal tending justru gw nggak perhatiin.

    Kedua, dan ini yang biasanya kurang disukai fans malah. Wasit kadang mau jadi diktator. Setiap call2 kecil harus dia tiup, karena dia ngerasa di kondisi ini dia harus betul-betul jadi hakim. Di bawah wasit model ini sering ada beberapa tiupan peluit meragukan berbuah Free-throw yang bisa decide the outcome.

    Tapi juga wasit manusia, bisa terbawa situasi permainan. Cenderung menguntungkan pihak yang lebih agresif. Thai sepertinya lebih banyak mengatur bola masuk ke daerah bawah ring di mana contact lebih banyak terjadi, ketimbang kalau bola-bola di perimeter untuk jump shot.

    Reply
  11. noname says:

    Kekalahan yg ga seharusnya terjadi. Tapi tetep dukung timnas qt buat dapet perunggu

    Reply
  12. Hans says:

    Team yg baik perlu didukung oleh jajaran pelatih yg baik….and we don’t have it….we should hire better coach.

    Reply
    • Andre says:

      Ini timnya Coach Rastafari atau Coach Ito? Dari kejuaraan Asia kemarin (yg di Jepang ya kl ga salah?) keliatanya yg sibuk di pinggir biasanya Ito. Coach Rasta duduk2 aja

      Reply
      • andoms says:

        Kalau menurut gw Rastafari dan Ito saling menguatkan satu sama lain. Rastafari milih ito jadi assitant coach pasti karena ngerasa ito punya kelebihan yang nggak dimiliki Rastafari. Mungkin ada yg lebih kenal tipical Coach Rastafari dan Coach Ito?

        Reply
  13. Yohan says:

    Gue gak setuju wasit dijadiin alasan kalah.. Ya kalo kalah ya terima aja.. Coba kalo kemarin kita menang, gue berani jamin komentarnya pasti wasit ok2 aja..

    Reply
  14. Yohans says:

    Ya uda kalah ya terima aja, emang uda jalannya.. Gak usah nyalahin wasit! Coba kalo kemarin kita menang, pasti pd bilang wasitnya ok2 aja..

    Reply
  15. riza says:

    SALUT buat perjuangan Timnas Basket Indonesia…
    Tetap semangat…

    apa keputusan wasit itu gak bisa kita protes??? siapa tau ada kamera dr tv yg nyiarin yg ngerekam adanya gol tending atau foulnya… yah lebih jelasnya kalo kita nntn NBA ada video rekaman yg akan menentukan keputusan wasit setelah melihat video replay itu…apabila ada protes atas keputusan wasit?

    Reply
  16. Rimaudina says:

    disayangkan juga para penonton banyak yang melempar botol ke arah lapangan. :(

    Reply
  17. Fy_ro says:

    Kecewa memang dengan hasil pertandingan kemarin, keputusan wasit, dan pelemparan botol kemarin.

    Namun,dalam permainan bola basket, apapun bisa terjadi. Faktor-faktor tidak terduga seperti keputusan wasit yang mengecewakan, cidera, performa pemain yang buruk, bola yang licin, ring jelek, lapangan licin, atau bahkan sepatu yang tidak nyaman, dan banyak lagi hal-hal kecil yang dapat menentukan hasil pertandingan.

    Tim Thailand juga menghadapi hal yang sama. Kalau dilihat dari materi pemain, kemampuan pemain kita lebih unggul baik dari segi kemampuan maun postur tubuh. Sayangnya untuk segi mentalitas kita harus mengakui bahwa kita masih kalah dari Thailand. Mungkin hal ini patut menjadi pelajaran dalam hal pembinaan, supaya kita mempunyai mentalitas atlit yang tidak memberi kesempatan, dan tidak menyerah hingga akhir pertandingan.

    Sebua pelajaran berharga untuk timnas kita. Sekarang saatnya meraih perunggu. Ayo pasti bisa!b

    Reply
  18. yando says:

    setau saya dalam peraturan FIBA memang tidak ada goal tending tidak seperti di NBA..krn brberapa kali gw nonton kejuaraan fiba eropa di youtube, sering kali pemain memukul bola pd saat bola lagi memantul di atas ring atau berputar di atas ring. tp mungkin gw kurang tau ya..tolong di kritik..makasih.. maju terus basket indonesia

    Reply
  19. BasketAsolole says:

    wow… bukannya mulai awal Faisal ngga bagus maennya…. tercermin saat pemain ini turun menggantikan mario Wusang saat laga kontra Singapura. saat RoGun23 memecah kebuntuan poin faisal malah membuat turnover(TO) hampin berurutan. memang benar thailand bangkit saat TO Indonesia yang sia-sia. dan anehnya TO itulah membuat easy point buat lawan. semoga kita paham akan ketinggalan kita.
    tapi ingat esok Matahari masih ada jadi bankit dan fokus lagi… #ayoBasketIndonesia

    kalo ngomongin wasit mendingan kita ngomongin tim jadi lebih baik. okey

    rozy jj folo @basketAsolole

    Reply
    • yando says:

      kalo faisal tuh cuma jago kandang aja, terlihat wkt ABL, kalo udah faisal yg turun maennya kacau salah pass, suka trn over yg tak jelas, makanya SM ambil mario u ganttin dia di ABL. masih banyak play maker yg lebih bagus kayaq gurungan aspac atau dimas di CLS maennya lebih safe dan lebih team play, jadi mario wuysang ada pengganti yg sepadan…tul tak

      Reply
  20. Kobe bryant says:

    maaf ya main basket,,,tapi anda cuma bisa mengomentari saja.

    Reply
    • Mainbasket says:

      Yoi, sama seperti yg kasih komentar yg lain. Sama seperti ribuan penonton di Britama Arena. Sama seperti jutaan penonton tayangan tv. Bisanya cuma komentar. Eh, Kobe Bryant bisa Bahasa Indonesia?

      Btw, salah satu beban pemain nasional yaa harus kuat dikritik. Bukan hanya siap terkenal dan mendapat puja-puji. Jangan lupa, kritik juga merupakan bentuk dukungan. Tanpa kritik, pemain bisa lupa diri.

      Reply
      • prabhaswara says:

        emang si kobe bryant ini siapa?
        pemain nasional yah?

        ato jangan2 ini si pemilik punggung no 8 di tim nasional?

        kalo bener iya, kenapa harus malu pake nama sendiri?
        kenapa harus pake nama samaran?

        Reply
  21. fans says:

    ntn Indonesia kmren ud kyk ntn Fakers maen. diawali permainan yg krng baik, pemain bintang memecah kebuntuan, unggul jauh, menurunkan ritme, muncul “msh dlm selimut” TO (biasany si Fisher, kebetulan sm2 inisial F), mulai tersusul, tp smw pemain dn pola terlanjur terpaku pd 1 org (tdk ad pmain yg brani mendobrak/kluar dri jalur/pola pdhl ad peluang), akirny tersusul, tim dn pemain mulai strugle/dilema/mental sulit terkontrol, peluang tersia siakn, kalah… :(

    andai sejak awal pertandingn di quarter 1 tim pelatih bisa memanfaatkan peluang yg bgs sekali dimana permainan Thailand tidak bermain dengan ritme yg bnr, baik defense mwpun offense, mungkin hasilny akn sgt bgs! buat apa mengamati permainan lwn diawal pertandingan selama kita bisa memberi tekanan yg bertubi tubi sehingga lwn kesulitn menemukn ritme ny. tralu byk melakukn tembakan 3angka dimana seharusny bisa dilakukan penetrasi dengan mudah diawal pertandingan.

    pemain ud kerja keras. sgt disayangkan…

    Reply
  22. angga says:

    ternyata pertandingan bola basket selevel sea games pun juga terkandala oleh wasit yang kurang tegas menggambil keputusan. :(

    Reply
  23. CT says:

    Hey bro, I just learned about your heartbreaking loss against Thailand. Most Filipinos, including our coaching staff as well as our basketball analysts and writers, were expecting Indonesia to be our finals opponent because we knew how good your team and players were.

    I can just imagine how painful this must have been for you guys since Indonesia was ahead by more than 10 points in the 3rd quarter. This reminds me of the painful losses that Philippines had against our greatest tormentor – South Korea. Back in 2002 in the Busan Asian Games, the Philippines was ahead by 2 points with just a few seconds left. South Korea had just fouled our point guard and so our team was awarded 2 free throws. Unfortunately, he missed both attempts. This gave South Korea the chance to make a last second shot from the 3-point area. Their shot went in and they won by 1 point. Years later, in the 2011 FIBA Asia battle for the bronze medal, we met South Korea again. Many of us were expecting revenge and we believed that this time we are going to destroy them. The Philippines was comfortably ahead by 13 or 15 points in the middle of the 4th quarter. In the dying minutes and seconds of the game, our team kept on missing our free throws and so South Korea won against us by two points. Painful, isn’t it?

    All I can say is that let this loss to Thailand be an incentive for Indonesia to play and prepare even better in the future. Future success depends heavily on a well prepared and well-funded sports program. Based on the plans of your Perbasi (which was heavily discussed in your wordpress blog), I believe your basketball program is in good hands.

    If I can make a suggestion, Indonesia should send some teams here in the Philippines to join the Fil-Oil basketball tournament where top teams from our colleges and universities play in. This is an open tournament that starts during the summer (April or May) and, as far as I know, some South East Asian teams have expressed their interest to join next year.

    Lastly, Indonesia should try inviting Americans or Europeans with Indonesian blood to play for your national team and the IBL. The size and skills that these players possess will certainly be a big boost to Indonesia’s basketball growth.

    Here in the Philippines, Gilas was a product of a brand new sports program started by our own basketball federation back in 2008 or 2009. Since the program is well-funded, our players and coaches were able to learn a lot from their travels to Europe and the US. The knowledge and skills that our players and coaches learned from these are now slowly being passed down to our younger players and coaches. As such, our collegiate and professional leagues have become stronger than ever. I am happy to say that our program has helped our men’s basketball team to beat teams like Iran, Jordan, Lebanon, Japan, and other Asian basketball super powers. Constant international exposure is the key and, right now, the Philippines is plotting its revenge against South Korea.

    Hopefully, Indonesia, is also plotting its revenge against Thailand. With the ABL coming up, I think payback time is near!

    Wish us luck in our game against Thailand. Go Pilipinas! Go Indonesia!

    Reply
    • Mainbasket says:

      Thank you CT. As a fan, you know you would have to face this kind of thing. It’s killing you but you just need to stick to what you believe and support. Thank you for the comment bro :)

      Reply
  24. Febriani Fatma says:

    Kenapa coach Rastafari ttp maksain Faisal main dg kondisi performa yg ga bagus sejak awal pertandingan? Biasanya asisten coach akan memberi masukan berdasarkan statistik sepanjang game ttg performa tiap pemain. Pengen tau alasan coach Fari dibalik keputusannya ini
    Sy termasuk org yakin sejak awal bhw Timnas kita akan masuk Final pd Seagames thn ini. Melihat persiapan mrk selama ini tentu keyakinan sy beralasan. Apakah kemenangan beruntun kita membuat para pemain menjd underestimate kpd lawan I don’t know. Yg jelas hrsnya tight game melawan Singapore kmrin mebuat mrk lbh aware.
    Saya kurang setuju dg faktor luck, dewi fortuna itu lbh cocok dg situasi mis selisih 1bola ato seri dibrp detik terakhir lawan scored dr stgh lapangan. Ini beda,hrsnya kita bisa control game dg unggul smpe Q3. Defense kita kurang rapi, pemain kita ga konsisten? Mungkin jg.
    Aku hanya berharap mrk tdk mengulangi lg kesalahn pada laga melawan Malaysia nanti shgga medali perunggu bisa jd milik Indonesia,Amin.

    Reply
  25. wiwaha says:

    It was one bitter pill to swallow that we lost to Thai !
    Wuysang as usual played w/ style and made his teammates’ job a lot easier. Sayang pahanya cidera. Too bad Faisal isn’t at his best and couldn’t step

    Amin lagi ‘bau’. At his best he’d hit > 50% behind the 3pts line.
    But yes ! Amin was clearly FOULED at the buzzard. Only crazy refs wouldn’t call it. (Iyee wasitnya ancurrrrr banget)

    Countless times of bad call from refs. For both team. Cuma kita kenanya pas saat2 kritis.

    Tapi point utamanya adalah: Indonesia LENGAH !
    Mestinya kita bisa maintain 14++ pts lead dan menang !
    Pas kesusul om Fari malah ‘nonton’. I think Ito would’ve done better.

    But Batam cs gave their best. Tetap membanggakan !
    Salut juga buat penonton yg tetap kasi (standing) applause saat timnas kasih salam ke penonton.

    Sekaraaaang rebut perunggu n ganyang Malay kembali !!!
    Maju basket Indonesia !

    Reply
  26. gakadaabu2,guaplhhitam says:

    kecewa itu pasti… gue kecewa meski gak nonton..dan lbh kecewa gak ada yg mau nyiarin.. : ).
    dan……..
    gak perlu nyalahin siapapun….. (karena bagi gue, teman2 yg mwakili indonesia itu adalah orang orang “terpilih”, orang2 yg harusnya siap dalam pertandingan apapun). taulah… begitu juga buat coachnya (krn yg terpilih, ya memang seseorang yg bisa jadi “coach”).

    buat wasit…welll..itu jadi pelajaran., mungkin utk seagames 2 thun lagi dimanapun itu, wasitnya mungkin perlu di”tata” lagi, seleksi or “palajaran tambahan” kalo perlu, biar tepat dalam menjatuhkan keputusan.

    dan buat penonton….dan sebagai penonton emang sih gua juga gak luput dg kelakuan tsb (dengan menyalahkan wasit dalam keputusannya, yg gue anggap nguntungin tim lawan). dan akan semakin memuncak kalo tim gue kalah…. : ). meski gua tahu tim yg gue dukung, mainnya gak bagus2 amat.
    yg mau gua bilang…cmon bro/sis…dewasalah….. mau yg dilempar itu botol, mercon, atau ngelaserin pemain …. gua emang bukan orang sucidanbener….tapi gua datang dan nonton basket karena gua suka basket… apapun yg terjadi (hasilnya). yg gue tahu penonton kita siap menang tp gak siap menerima kenyataann.

    sorry klo ada salah kata yg gua tulis. gak ada kmsud menyinggung siapapun…semua dari perspektif gue sebagai penonton dan pendukung timnas Indonesia. applaus buat timnas…semoga kita dapat perunggu.dan semoga jerseynya nyampe kekota gue.

    Reply
  27. achmadadi says:

    Ngga tau deh gimana si faisal kalo baca ini, + apalagi ada yang comment faisal adalah jago kandang atau sampai2 ada yang bilang “musuh dalam selimut”.. astaga, sepertinya agak menusuk kalo dibilang seperti itu. Semoga faisal bisa mengambil hikmah dari semua kritik yang masuk ke dirinya, bukannya malah jadi down ataupun frustasi ya, hehehe.

    Maju Basket Indonesia, skill diasah terus, teknik bermain ditingkatkan, mental diperbaiki, jadikan ini pengalaman berharga buat ke depannya. :)

    Reply
  28. dirga says:

    penampilan yg aneh dari faisal.. biasanya ni orang jago bgt ngadepin tekanan..

    yaaah,untuk turnament selanjutnya pmain2 muda kayak okiwira,dimaz muaharri,& mario gerungan kayaknya patut di pertimbangkan..

    sayang juga ari chandra minute play nya sedikit di SEA GAMES kali ini..

    Reply
  29. Djoko Santoso says:

    We are a team. We win together, we lose together. No one to blame!

    Setiap pemain pasti pernah mengalami hari yang buruk. LeBron James, Kobe Bryant ,bahkan seorang Michael Jordan pun pernah mengalami bad day nya masing-masing. Jadi, daripada menyalahkan seorang pemain, lebih baik kita mencari solusi bersama untuk membangun tim yang lebih baik. :)

    Reply
  30. riva says:

    Menyalahkan wasit ? buat gw ngga, walopun emang kinerja wasit rada ngga beres ! tapi buat gw yang mempunyai andil kesalahan terbesar adalah coach. Buat gw, kenapa ketika margin leading semakin kecil coach ngga mengganti pola permainan ? ketika Thailand bisa mengejar ketinggalan kenapa ngga fokus di defense (full/half court press, man-to-man, dll) ?, belom lagi gw setuju banget bahwa dengan dimainkan Faisal memang membuat permainan jadi rada kacau…yang gw bikin bingung kenapa polanya kok shooting 3 point terus ya ???
    Tapi ahh ya sudahlah…..next time better buat tim basket putra ! buat para coach, no offense sir :)

    Reply
  31. arif says:

    oh rupanya pertandingan seru dan penuh kontroversi *sayang sekali ane ga ntn* hiks3x

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>